Remaja Bertato Lebih Mudah Terlibat Seks Bebas
Posted by Muhammad Irfan on Wednesday, May 16, 2012 with No comments
Waspadai jika anak remaja sudah memutuskan untuk membuat tato permanen,
kecuali memang tradisinya mengharuskan demikian. Remaja yang bertato
hanya untuk gaya hidup lebih rentan terhadap perilaku berisiko lainnya
termasuk seks bebas.
Masyarakat moderen cenderung lebih terbuka terhadap beragam ekspresi gaya hidup, termasuk tato di kalangan anak remaja. Jika dahulu hanya orang-orang dengan latar belakang budaya tertentu seperti orang Dayak yang membuat tato, kini semua orang bisa punya tato.
Kesan garang seperti preman juga tidak selalu muncul jika tato yang dibuat bentuknya lucu-lucu, misalnya gambar kupu-kupu atau ikan lumba-lumba. Bahkan beberapa orang membuat tato permanen sebagai identitas yang menunjukkan kondisi kesehatannya, misalnya penderita diabetes.
Namun ketika tato sebagai ekspresi gaya hidup dibuat oleh anak remaja, pasti banyak orangtua akan merasa keberatan. Tak hanya akan terkesan nakal atau badung, sebuah penelitian mengungkap remaja yang bertato juga rentan terhadap perilaku berisiko lainnya.
Remaja yang memiliki tato 5 kali lebih berisiko terlibat pergaulan bebas, termasuk melakukan seks pranikah. Kecenderungan lain pada remaja bertato adalah 3 kali lebih rentan bergabung dalam sebuah geng, sehingga 2 kali lebih rentan kena masalah di sekolahnya misalnya berkelahi.
Dikutip dari health24, Jumat (29/4/2011), penyalahgunaan zat adiktif (substance abuse) juga termasuk perilaku berisiko yang lebih rentan dilakukan remaja bertato. Tidak selalu berupa narkotika dan psikotropika, rokok juga termasuk adiktif yang rentan disalahgunakan oleh remaja bertato.
Dibandingkan remaja yang tidak memiliki tato, perilaku menghisap rokok pada remaja bertato teramati lebih tinggi. Sekitar 60 persen remaja bertato mengaku telah menghisap merokok dalam sebulan terakhir, sementara pada remaja yang tidak bertato angkanya hanya 26 persen.
Berbagai fakta ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan Timothy Roberts dari Golisano Children's Hospital di New York. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Paediatrics ini melibatkan 6.000 remaja di Amerika Serikat dengan usia antara 17-21 tah
Masyarakat moderen cenderung lebih terbuka terhadap beragam ekspresi gaya hidup, termasuk tato di kalangan anak remaja. Jika dahulu hanya orang-orang dengan latar belakang budaya tertentu seperti orang Dayak yang membuat tato, kini semua orang bisa punya tato.
Kesan garang seperti preman juga tidak selalu muncul jika tato yang dibuat bentuknya lucu-lucu, misalnya gambar kupu-kupu atau ikan lumba-lumba. Bahkan beberapa orang membuat tato permanen sebagai identitas yang menunjukkan kondisi kesehatannya, misalnya penderita diabetes.
Namun ketika tato sebagai ekspresi gaya hidup dibuat oleh anak remaja, pasti banyak orangtua akan merasa keberatan. Tak hanya akan terkesan nakal atau badung, sebuah penelitian mengungkap remaja yang bertato juga rentan terhadap perilaku berisiko lainnya.
Remaja yang memiliki tato 5 kali lebih berisiko terlibat pergaulan bebas, termasuk melakukan seks pranikah. Kecenderungan lain pada remaja bertato adalah 3 kali lebih rentan bergabung dalam sebuah geng, sehingga 2 kali lebih rentan kena masalah di sekolahnya misalnya berkelahi.
Dikutip dari health24, Jumat (29/4/2011), penyalahgunaan zat adiktif (substance abuse) juga termasuk perilaku berisiko yang lebih rentan dilakukan remaja bertato. Tidak selalu berupa narkotika dan psikotropika, rokok juga termasuk adiktif yang rentan disalahgunakan oleh remaja bertato.
Dibandingkan remaja yang tidak memiliki tato, perilaku menghisap rokok pada remaja bertato teramati lebih tinggi. Sekitar 60 persen remaja bertato mengaku telah menghisap merokok dalam sebulan terakhir, sementara pada remaja yang tidak bertato angkanya hanya 26 persen.
Berbagai fakta ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan Timothy Roberts dari Golisano Children's Hospital di New York. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Paediatrics ini melibatkan 6.000 remaja di Amerika Serikat dengan usia antara 17-21 tah
@http://health.detik.com/
0 comments:
Post a Comment