The Knowledge For Our Common

Monday, December 24, 2012

Fakta ‘Menjijikkan’ Tentang Seks



Bagi para pasangan, seks itu luar biasa, karena menjadi salah satu faktor yang menghangatkan kehidupan cinta. Namun di balik itu, ada sejumlah fakta menjijikkan tentang seks yang kerap tak diperhatikan.
Berikut ini sejumlah fakta ‘menjijikkan’ tentang seks seperti dikutip dari Times of India :


1. Berciuman Itu Kotor
Ketika Anda mencium mulut pasangan, artinya tengah terjadi perpindahan bakteri antar mulut. Untuk diketahui, di dalam mulut ada 500 jenis bakteri, di mana 50 persen bersemayam di lidah. Mengingat hal ini, mungkin Anda jadi mempertimbangkan kembali untuk melakukan French kiss dengan pasangan.

2. Telanjang Itu ‘Berisik’
Saat melakukan aktivitas ranjang, para pasangan tentunya melepaskan seluruh pakaiannya. Saat berkeringat, tubuh Anda dan pasangan masih saling menempel dan bersentuhan sehingga bisa jadi lengket dan menimbulkan suara-suara aneh yang meningkahi aktivitas bercinta Anda. Hmm, mungkin bercinta dengan mengenakan pakaian adalah ide yang lebih higienis.

3. Vagina Bisa Bau
Vagina bau? Hmm ini kabar buruk bagi mereka yang menyukai oral seks. Ya,vagina bisa jadi bau jika tidak dibersihkan secara teratur, dan bahkan bisa menyebabkan infeksi jamur.

4. Setelah Bercinta Semua Berantakan
Hei apa yang terjadi setelah orgasme didapat? Keadaan tempat tidur Anda mungkin menjadi sangat berantakan. Biasanya perempuanlah yang bersih-bersih tempat tidur dan kamar sesaat setelahnya. Hmm, jadi ejakulasi adalah suatu urusan yang bikin berantakan.

5. Seks Setelah Makan Itu Menyebalkan
Setelah makan malam romantis, pasangan melanjutkan kegiatannya di atas ranjang. Sepertinya menyenangkan, tapi akan jadi menyebalkan saat sedang asyik bercinta salah satu dari Anda malah bersendawa. Apalagi jika mengeluarkan bau tajam saat bersendawa. Iiih.
Seks sama sekali tidak menyenangkan saat mulut Anda bau, dan ketika perut Anda sangat penuh. Ingat, seks itu bukan sekadar membakar kalori semata.


@http://health.detik.com


Thursday, December 20, 2012

Priyo Budi Santoso: Semoga Runtuhlah Malaysia

Priyo pun menyarankan pejabat Malaysia untuk banyak belajar menghormati bangsa Indonesia
Pemberian gelar kehormatan Honoris Causa Doctor of Philosophy ini Leadership of Peace dari Universiti Utara Malaysia kepada Presiden SBY tak serta merta menuntaskan sejumah permasalahan yang dilatarbelakangi sikap melecehkan Malaysia terhadap Indonesia.

"Penghormatan terhadap SBY dianugerahi Doctor Honoris Causa jangan meninabobokan kita, karena masih banyak elemen dan anasir-anasir Malaysia yang sangat bermusuhan dengan suasana batin Indonesia," ujar dia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/12).

Kata Priyo, tingkah polah pihak Malaysia, mulai dari polisi, pejabat, hingga mantan pejabat memang tidak bersahabat. Yang paling anyar, opini mantan Menteri Penerangan Malaysia Zainuddin Maidin yang menghina dua mantan Presiden RI, yakni BJ Habibie dan mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

"Mantan pejabat di Negeri Jiran yang katanya Indonesia saudara serumpun Melayu kok memberi pernyataan begitu? Pernyataan tokoh mantan pejabat itu pernyataan yang linglung dan terbelakang karena tidak tahu perkembangan demokrasi. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja," ucap politikus Golkar ini.

Priyo pun menyarankan pejabat Malaysia untuk banyak belajar menghormati bangsa Indonesia bila tidak ingin dinilai sengaja menyepelekan. Mengenai pernyataan SBY menyikapi hal ini, Priyo melempar apresiasi dan menurutnya hal tersebut merupakan sikap pemimpin bangsa.

"Yang dilakukan SBY sudah cukup untuk memberitahukan mereka. Tapi dia (Zainuddin) menamakan pejabat tinggi UMNO. Saya berdoa runtuhlah mereka (Malaysia)," pungkas Priyo




@http://jaringnews.com/


Kritik SBY untuk Mantan Menteri Malaysia Patut Diapresiasi



Pernyataan Zainuddin yang dituangkan dalam opini sangat tidak pantas.
Pakar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana mengatakan, ketegasan SBY menyatakan ketidaksukaannya terhadap pernyataan mantan Menteri Penerangan Malaysia Moehammad Tan Sri Zainuddin Maidin patut diapresias. Kata Hikmahanto, hal tersebut merupakan langkah positif.

Hikmahanto juga yakin, dalam pertemuan dua kepala negara, SBY akan menyampaikan hal yang sama kepada Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Mohd Najib Tun Abdul Razak, tentang Zainuddin Maidin, yang dinilai melakukan penginaan kepada mantan Presiden RI BJ Habibie.

"Kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyobo tidak menyampaikan di publik, saya yakin masyarakat akan marah," ujar Hikmahanto di Jakarta, Rabu (19/12).

Menurut dia, pernyataan Zainuddin yang dituangkan dalam opini sangat tidak pantas, mengingat Zainuddin adalah tokoh publik. "Perlu adanya kesopansantunan dalam berpolitik, dan melontarkan pendapat. Sebagai tokoh elit harus berpikir, dan beliau adalah mantan pejabat negeri di Malaysia. Mantan pejabat publik harus hati-hati dalam berkata-kata atau beropini," ujarnya.

Hikmahanto menambahkan, sikap tegas SBY ini juga bisa meredam emosi masyarakat Indonesia. "Jangan sampai masalah ini berkembang di depan publik, akan tidak sehat," tukasnya.



@http://jaringnews.com/


Absurditas Pluralisme Agama

Pluralisme agama merupakan tren baru dalam khazanah pemikiran filsafat dan politik kontemporer. Layaknya ide-ide yang ada, pluralisme menawarkan banyak harapan yang secara umum bertujuan agar tercipta dunia yang lebih beradab. Konflik – konflik yang terjadi dewasa ini diakibatkan oleh tidak adanya toleransi diantara pemeluk agama-agama. Hilangnya toleransi berakar dari eksklusivitas dogma agama-agama tradisional. Dalam hal ini, pluralisme hadir menawarkan alternatif solusi yang dianggap mampu menyelesaikan persolan ini.
            Agama dalam pandangan konvensional memiliki doktrin-doktrin yang masing-masing berbeda. Agama memiliki seperangkat aturan spiritual, etika, norma, konsep teologis, bahkan wilayah ideologi yang beragam. Masing-masing bersifat eksklusif dan fanatik.
            Agama dalam pandangan pluralis berbeda dalam tataran eksoteris (luaran) tetapi bertemu pada tataran esoteris (substansi). Perangkat spiritual , doktrin teologis, etika, hukum-hukum yang ada dalam suatu agama diinstitusionalisasikan dalam ruang sejarah tertentu. Sehingga itu merupakan persepsi individu para nabi setiap agama terhadap hakikat Tuhan dan segenap aspek teologis. Sejarah yang ditempati manusia  menyebabkan agama dipersepsikan secara subjektif sehingga muncullah agama dalam bentuk yang beragam. Kebenaran agama pada level luaran ini bersifat relatif. Pada tataran ini agama-agama berbeda, ini dikenal dengan aspek eksoteris.
Tuhan sebagai esensi adalah tuhan yang dipersefsikan pada level esoteris, dan ini, dalam pandangan Frithjof Schuon melintasi batas-batas agama. Manusia pada level ini akan menemukan jati diri yang sesungguhnya. Sebab pandangan esoterisme mengenyampingkan ego manusia yang kemudian menggantikannya dengan ego yang diwarnai dengan nilai-nilai ketuhanan. Meskipun agama–agama tersebut berbeda pada level eksoteris namun menuju satu titik  yaitu hakikat tuhan yang sesungguhnya.  Pada level inilah manusia sama.
            Gagasan ini tidak sesuai dengan realitas agama-agama yang ada. Karena agama-agama ini memiliki doktrin  yang berbeda. Dan aspek esoteris sebenarnya tidak lepas dari aspek eksoteris.
 Menurut Islam manusia bisa menuju hakikat kebenaran apabila menjalankan segenap aturan yang ada pada level eksoteris. Manusia tidak akan pernah bisa sampai kepada tuhan jika cara yang dilakukan hanyalah spekulasi spiritual semata.

Serangan Pluralisme Terhadap Truth Claim (klaim kebenaran)
Truth claim pada masing-masing agama dianggap sebagai penyebab lahirnya sikap intoleransi. Sikap intoleransi ini berlanjut menjadi konfik yang sangat mengerikan yang pernah ada. Benarkah demikian duduk perkaranya ?.
Sesungguhnya truth claim yang ada pada agama-agama tidaklah otomatis menyebabkan konflik sebagaimana yang dipersepsikan oleh para pluralis. Klaim kebenaran lebih merupakan hak setiap individu manusia. Itu semua merupakan sesuatu yang wajar. Seseorang dengan informasi yang diserap dari berbagai realita yang mengelilinginya memungkinkan lahirnya perbedaan persepsi terhadap segenap wujud. Perbedaan inilah yang melahirkan keyakinan yang berbeda. Keragaman  agama, ideologi, dan berbagai khazanah pemikiran menunjukkan hal itu. Ini realitas yang tidak bisa kita nafikan.
Keimanan seseorang terhadap agamanya tidaklah otomatis memaksa seseorang untuk memaksakan keyakinannya terhadap pihak lain. Keyakinan ini bersifat personal- individual, masing-masing agama mengajarkan toleransi terhadap pemeluk agama lainnya dalam ruang lingkup agama. Agama-agama yang ada kecuali Islam, tidaklah memiliki karakter ideologis. Yang ada hanyalah sekumpulan konsepsi teologis ditambah seperangkat prosesi ritual serta etika sosial yang masih bersifat umum.agama-agama diluar Islam tidak memiliki konsep sistemik pilar dalam mengkonstruk tatanan masyarakat. Tidak dikenal adanya sistem ekonomi Nasrani, hukum positif Budha atau   sistem politik  dan pemerintahan Yahudi, dimana Islam memiliki khazanah dalam aspek-aspek tersebut. Ini semua menuntut agama-agama selain Islam mengambil ideologi tertentu untuk mengatur tatanan kehidupan, Baik itu Sosialisme-komunisme, Kapitalisme, atau Islam. Islam termasuk dalam salah satu deretan ideologi dunia. Islam memiliki konsep spiritual sekaligus politik, Islam berbicara agama dan juga negara, Islam mengatur persoalan personal maupun tatanan komunal. Intinya Islam bukan hanya agama tetapi juga mencakup ideologi. Kesimpulannya,  agama-agama dengan karakter hanya sebagai agama bisa  hidup dalam medium Kapitalisme, Sosialisme dan Islam.
Ada sebagian kalangan yang mempermasalahkan karakter misi yang dimiliki oleh sebagian agama. Karakter misi yang dimiliki oleh sebagian agama menjadi ajang untuk mempromosikan konsepsi agamanya kepada pihak lainnya. Tidak ada pemaksaan dalam menjalankan aktivitas dakwah ini, jika terjadi pemaksaan, itu merupakan penyimpangan dari ajaran agama itu sendiri. Disini untuk keskian kalinya argumen pluralisme terbantahkan

Pluralisme Menciptakan Teror Bagi Agama
Konfilik-konflik yang melanda dunia dewasa ini diakibatkan oleh perbedaan doktrin teologis dari masing-masing agama yang sebenarnya berhakikat sama. Sensitifitas manusia terhadap isu-isu agama menjadi tumpul karena doktrin apapun yang bersifat ekslusif dari masing-masing agama diruntuhkan, truth claim yang identik dengan keberadaan agama diserang dengan senjata rasional murni. Itu semua ditujukan agar agama tidak lagi dibalut oleh sikap fanatisme, egoisme dan bentuk-bentuk intoleransi lainya . Pluralisme datang membawa harapan akan tertuntaskannya konnflik-konflik atas nama agama yang banyak menimpa dunia dewasa ini maupun yang telah berlalu dalam sejarah. Pertanyaannya: benarkah pluralisme mampu menyelesaikan persoalan tersebut atau malah justru membawa masalah baru  ?
Alih-alih menjadi solusi terhadap konflik yang terjadi, pluralisme ternyata masalah menambah persoalan baru. Konstruk teologi yang digagas oleh kalangan pluralis berujung pada penginstitusionalisasian agama baru. Pada saat inilah penganut paham ini mengumandangkan truth claim baru dalam format relativisme kebenaran dan spekulasi spiritual. Dua pilar ini berujung pada kesimpulan bahwa agama-agama berada pada posisi setara, selanjutnya dengan langkah radikal paham ini menuju pada persepsi bahwa semua agama itu sama, semuanya benar sehingga tidak perlu ada polemik seputar kebenaran.
Pluralisme ternyata menjadi teror baru bagi agama-agama tradisional. Ini terjadi setelah paham ini melontarkan serangan terhadap kemapanan teologi agama-agama tradisional. Serangan ini penuh dengan stigma, pendiskreditan dan berbagai bentuk prasangka yang berlebihan. Nah pada titik ini seorang pluralis membuka front pertentangan dengan penganut agama tradisional baik pada tataran filosofis maupun pada tataran aksi (politis). Kasus tuntutan pembubaran FPI, HTI dan MMI yang diusung kalangan pluralis beberapa waktu yang lalu, jelas, menunjukkan hal itu. Kalangan pluralis bersatu membentuk aliansi Garda Bangsa untuk menghadang kekuatan ormas-ormas Islam. Terbentuknya sikap fanatisme pada kalangan pluralis yang kemudian melahirkan teror terhadap ormas-ormas islam membuktikan gagalnya doktin pluralisme agama dalam mencapai visi perjuangan nya.

Truth Claim Tidak Memiliki Hubungan Dengan Konflik
Konflik-konflik yang terjadi bukanlah disebabkan truth claim yang ada pada masing-masing agama, akan tetapi konflik yang terjadi sesungguhnya lebih disebabkan oleh pertentangan ideologi, nah disinilah agama dijadikan tameng. Kasus konflik antara Barat dengan dunia Islam bukanlah pertarungan antara Kristen dengan Islam akan tetapi antara ideologi Kapitalisme dengan pengemban ideologi Islam atau penjajahan imperium Kapitalisme global terhadap umat manusia. Realita yang terjadi adalah bahwa pengemban ideologi Kapitalisme mengasosiasikan dirinya ke dalam salah satu agama, sehingga mereka berlindung dibalik tabir agama Kristen. Di sinilah para kapitalis menjalankan misi eksploitatif penjajahannya. Inilah yang mengacaukan pemahaman. Kristen dipolitisasi, karena memang ajaran agama merupakan isu sensitif untuk membangkitkan pertentangan, ketegangan, bahkan konflik. Maka yang  bertanggung jawab bukan agama tetapi ideologi. Perlu diingat individu  diluar islam mengalami split personality  disatu sisi agama menuntut menyebar cinta kasih disi lain kapitalisme dengan watak eksploitatif  membimbing ekspresi diri begitu juga dengan sosialisme. Hanya islam yang mampu menegakkan spremasi keadilan universal.

Kritik Islam Terhadap Pluralisme
Persepsi ini tidak akan pernah diterima oleh agama-agama tradisional khususnya Islam. Islam sejak awal telah mengkritik agama-agama sebelumnya dari kalangan ahlu al kitab. Islam memandang bahwa agama –agama tersebut tidak lagi autentik, pesan tuhan telah tercampur dengan berbagai corak kreasi akal manusia melalui tangan musuh tuhan  sekaligus musuh kebenaran. Pergeseran itu terlajadi dalam perjalanan sejarah. Hal ini diungkapkan didalam banyak ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW.
Argumen diatas diperkuat oleh kenyataan sejarah yang menunjukkan hal yang sama. Banyak kritikan yang dilontarkan oleh teolog Kristen dan Yahudi sendiri terhadap doktrin teologi agama mereka. Banyak diantara mereka yang sampai pada kesimpulan bahwa agama nya  terinstitusionalisasikan menuju pematangn teologi didalam roda sejarah. Berbagai kritikan itu mendorong seorang teolog Kristen untuk menamakan bukunya dengan judul Who Wrote the Bible ?.  Ini semua menggambarkan adanya problem teologis yang sangat serius. Petaka sejarah ini juga menimpa banyak agama disamping kenyataan bahwa agama-agama tersebut hanyalah kreasi akal dan spekulasi teologis pembawa ajarannya semata.

Pluralisme Sebagai Agama Baru
Pluralisme agama mencari justifikasinya didalam ajaran agama-agama tradisional dengan persepsi bahwa agama-agama berbeda berbeda dalam bentuk luaran namun menuju pada titik yang sama pada level esoteris. Akan tetapi paham pluralisme agama senyatanya meruntuhkan bangunan  konsepsi agama agama tradisi sambil mengkonstruk bangunan teologi baru yang dianggap lebih adil dan rasional.

Pertarungan Ideologi
Ideologi berwatak ekslusif dan konfrontatif. Ideologi tidak dapat diterapkan secara bersamaan dalam suatu wilayah. Kapitalisme tidak bisa menerima kehadiran Islam, begitu juga sebaliknya. Sekedar untuk menggunakan jilbab saja sudah dilarang, apalagi menerapkan hudûd (sistem persangsian dalam Islam). Pelarangan penggunaan simbol-simbol agama di beberapa negara Eropa dilakuakan untuk menjamin berlangsungnya sekulerisasi. Tuduhan teroris yang dilekatkan kepada gerkan-gerakan Islam, kudeta militer yang didukung dunia Barat terhadap FIS Aljazair, sangsi ekonomi terhadap HAMAS, pelarangan aktivitas gerakan-gerkan Islam oleh rezim negara-negara Arab, dukungan politik terhadap Israel dan sederet persoalan lainnya menunjukkan pertarungan idiologi secara nyata.
@http://pembelajar2010.blogspot.com

Malaysia peringkat 10 negara termalas sejagat

Salah satu negara di kawasan Asia Tenggara, Malaysia, masuk peringkat kesepuluh dari 20 negeri paling malas sejagat. Hal itu terjadi lantaran 61,4 persen dari seluruh warga negara Negeri Melayu itu kurang aktif. Sementara Kerajaan Arab Saudi menduduki posisi ketiga dengan karena 68.8 persen penduduknya senang bersantai. Paling mengejutkan, Jepang bercokol di posisi 11 dengan 60.2 persen penduduknya malas. Padahal Negeri Sakura selama ini terkenal dengan etos kerja rajin dan disipling tinggi.
Hasil penelitian itu dipaparkan oleh jurnal ilmiah The Lancet. Mereka melakukan studi terhadap 122 negara di dunia guna mencari mana paling malas, seperti dilansir dari surat kabar the Daily Mail, Minggu (5/8). Yunani menjadi negara dengan penduduk paling rajin lantaran hanya 15 persen warganya tidak melakukan apa-apa. Beruntunglah Indonesia ada di luar daftar 20 besar negara termalas.
Indikator buat menentukan persentase penduduk malas di sebuah negara dilihat dari perbandingan jumlah warga bekerja dan menganggur. Kesimpulannya, mereka menetapkan Malta sebagai negara nomor satu termalas.
Secara keseluruhan, persentase wanita karir di tiap negara dalam survei itu lebih sedikit ketimbang pria. Tetapi perempuan Arab Saudi menduduki peringkat tertinggi menganggur lantaran norma sosial berdasarkan syariah Islam melarang kaum hawa beraktivitas di luar rumah. Selain itu dari semua negara termasuk dalam jajak pendapat itu, 80 persen remajanya lebih senang bersantai daripada berkegiatan positif.
Hasil penelitian ini sebenarnya ditujukan buat menggugah kesadaran di antara warga Inggris. Momennya pun dibarengi gelaran pesta olahraga sejagat Olimpiade 2012.
Selain itu, menurut beberapa pakar kesehatan sikap malas menjadi pemicu kematian. Mereka menilai jika jarang berolahraga, maka tubuh manusia rentan terserang penyakit.
The Lancet adalah jurnal ilmiah khusus menyorot masalah kesehatan asal Inggris. Mereka menerbitkan jurnal rutin mingguan dan laporan khusus saban tiga bulan sekali.
Berikut daftar lengkap negara paling malas sejagat:
1 – Malta : 71.9% penduduk malas
2 – Swaziland : 69.0% penduduk malas
3 – Arab Saudi : 68.8% penduduk malas
4 – Serbia : 68.3% penduduk malas
5 – Argentina : 68.3% penduduk malas
6 – Micronesia : 66.3% penduduk malas
7 – Kuwait : 64.5% penduduk malas
8 – Inggris : 63.3% penduduk malas
9 – Uni Emirat Arab : 62.5% penduduk malas
10 – Malaysia : 61.4% penduduk malas
11 – Jepang : 60.2% penduduk malas
12 – Republik Dominika : 60.0% penduduk malas
13 – Namibia : 58.5% penduduk malas
14 – Iraq: 58.4% penduduk malas
15 – Turki : 56.0% penduduk malas
16 – Cyprus : 55.4% penduduk malas
17 – Italia : 54.7% penduduk malas
18 – Irlandia : 53.2% penduduk malas
19 – Afrika Selatan : 52.4% penduduk malas
20 - Bhutan : 52.3% penduduk malas



@http://www.merdeka.com/


Wacana Pluralisme Agama di Malaysia



Hari Sabtu (22/9/2012), pukul 21.00-23.00, saya dan rombongan Rektor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, berkesempatan menghadiri kuliah terbuka (Saturday Night Lecture)  Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas di Kampus Internasional UTM.  Kuliah rutin Prof. Naquib al-Attas ini diselenggarakan oleh Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilization (CASIS) –UTM  yang didirikan dan dipimpin oleh Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud.

Sebenarnya, tujuan utama delegasi UIKA Bogor ke Kuala Lumpur adalah penandatanganan Nota Kesepahaman antara UIKA dengan Universiti Teknologi Malaysia, sebuah universitas besar dengan mahasiswa internasional lebih dari 4.000 orang.  Namun, kami bersyukur sempat juga mengikuti kuliah umum Prof. Naquib al-Attas, yang pernah mengunjungi UIKA di tahun 1990-an.  Kota Bogor juga sangat akrab dengan Prof. al-Attas, sebab di masa kecil beliau pernah tinggal di sini. Beliau adalah cucu dari Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas, yang di daerah Empang Bogor popular dengan sebutan “Habib Kramat”.

Malam itu Prof. Naquib al-Attas banyak menguraikan makna dari sejumlah istilah penting dan popular dalam kajian Islam, seperti makna ad-Din, religion, knowledge, ilmu pengetahuan, ilmu pengenalan, ma’rifat, dan sebagainya.  Sekitar 300 peserta memenuhi auditorium Kampus Internasional UTM.  Mereka cukup beragam; ada guru besar, pejabat tinggi negara, pengusaha, kalangan professional, mahasiswa, dan juga hadirin dari Indonesia, Singapura, Thailand, dan sebagainya.

Di usianya yang k3-83, Prof. al-Attas masih mampu memberikan kuliah dengan lancar selama hampir tiga jam.  Al-Attas terkenal dengan teorinya, bahwa “Islam is the only genuine revealed religion”; Islam adalah satu-satunya agama wahyu yang murni.  Selain Islam, menurut al-Attas, masuk kategori agama budaya (cultural religion).  Sudah seyogyanya, setiap Muslim meyakini kebenaran dan keistimewaan Islam sebagai nama satu agama dan juga sebagai cara yang benar dalam berserah diri kepada Allah (submission to Allah). Keyakinan orang Muslim itu sepatutnya dihormati, sebagaimana juga kaum Muslim menghormati keyakinan agama-agama lainnya.

Dalam kaitan inilah, Prof.al-Attas mengkritik paham Pluralisme Agama yang secara intoleran melarang kaum Muslim – dan pemeluk agama-agama lain -- untuk meyakini kebenaran agamanya masing-masing. Dalam karya monumentalnya, Prolegomena to the Metaphysic of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), al-Attas sudah mengkritik paham Trancendent Unity of Religion – satu jenis Pluralisme Agama – yang kian marak disebarkan akhir-akhir ini.   Malam itu, Prof. Al-Attas menegaskan kembali kekeliruan paham Pluralisme Agama dan menepis berbagai tudingan yang menyatakan bahwa umat Islam tidak toleran terhadap umat beragama lainnya.

Penjelasan Prof. al-Attas tentang kekeliruan paham Pluralisme tentu saja sangat penting di Malaysia saat ini. Sebab, wacana Pluralisme tampaknya sedang hangat-hangatnya di Malaysia.  Saat kunjungan ke Malaysia itu, saya menerima hadiah sebuah buku berjudul “Pluralisme Agama: Satu Gerakan Iblis Memurtadkan Ummah”, yang diterbitkan Muafakat, Kuala Lumpur, 2012.  Membaca buku ini, tampak wacana Pluralisme sedang sangat gencar diperbincangkan di Malaysia.  Memandang begitu pentingnya isi buku ini, maka begitu tiba di Jakarta, pada 26 September 2012, buku ini langsung saya bahas dalam acara Dialog Malam di Radio Dakta 107 FM, jam 20.00-22.00 WIB.

Seingat saya, di tahun 2003, saat memulai kuliah di ISTAC-IIUM, wacana Pluralisme Agama masih asing di banyak aktivis Islam di Malaysia.  Saat membentang fakta dan data tentang Pluralisme Agama di Indonesia,  dalam berbagai forum diskusi, banyak tokoh dan cendekiawan di Malaysia, menyatakan, bahwa pendapat-pendapat sejumlah kaum Pluralis di Indonesia sangat ekstrim, sampai membenarkan semua agama. Paham semacam itu, kata mereka ketika itu,  sulit berkembang di Malaysia, karena pemerintah Malaysia bertugas menjaga aqidah Islam, sebagaimana diamanahkan dalam Konstitusi.

Tetapi, kini, wacana Pluralisme Agama pun sudah tampak mulai berkembang, meskipun masih mendapatkan tantangan yang sengit dari berbagai kalangan cendekiawan ulung seperti Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.  Tahun 2006, umat Islam di Malaysia pernah dihebohkan dengan terbitnya buku berjudul “Islam dan Pluralisme” dengan biaya dari Konrad Adenauer Foundation. Diantara cendekiwan yang tulisannya dalam buku tersebut  adalah Nurcholish Madjid, John Hick, dan Asghar Ali Engineer.

Kini, wacana Pluralisme Agama  makin meluas, apalagi setelah tokoh politik Anwar Ibrahim juga secara terbuka menyampaikan  pidatonya yang berisi dukungan terhadap paham ini. Buku “Pluralisme Agama: Satu Gerakan Iblis Memurtadkan Ummah” yang diedit oleh aktivis Islam senior di Malaysia, Ismail Mina Ahmad,  ini banyak mengupas dan mengkritisi pidato Anwar Ibrahim di London School of Economics, 18 Maret 2010.  Adalah penting untuk menyimak petikan-petikan isi pidato Anwar Ibrahim tersebut:
“…. it is a stark reality of our world that  certain religious groups hold that only certain fundamental doctrines may lead to salvation. This exclusivist  outlook unfortunately cuts across the board as between religions as well as within the denominations….”
“Back in the 13th century, the mystical poet Jalaluddin al-Rumi wrote in the Masnawi: The Lamps are different but the Light is the same, it comes from Beyond; if Thou keep looking at the lamp, thou art lost; for thence arises the appearance of number and plurality…”
“Today, freedom of religion without which there can be no religious pluralism, is an entrenched constitutional liberty in the established democracies. As such, favouring one religion over another or granting it a position at the expense of others may be considered as being against the spirit of religious pluralism. Yet this still happens even in certain established democracies in Europe while in the Middle East and in South East Asia this ambivalence has been virtually taken for granted until recently.
This is why the discourse on religious pluralism must deal with the fundamental question of freedom of religion and by association the freedom of conscience. The question arises as to whether it is diversity of religions which makes the divided world more divided or the denial of religious freedom that causes it.
I believe I’am not alone in saying that for religious pluralism to flourish in a divided world, it is morally unacceptable to say to people of other faiths: We believe in Our God and we believe we are right; you believe in your God, but what you believe in is wrong….
Whatever the religion, whether it be Islam, Christianity, Judaism, Sikhism, Hinduism and many others, I believe that the higher truths which go beyond mere practice and ritual all converge on the singular truth; and that is from God we were sent forth and unto God shall we return.
Yet certain leaders of the major world religions continue to make exclusivist claims to the eternal truths rather that accepting the commonality  that blinds us. If we accept that there can be unity in diversity, religious pluralism can therefore be a unifying force, not a cause of division. That is the way to take us away from darkness into light, from war to peace and from hatred and evil to love and kindness.”

Demikianlah isi pidato Anwar Ibrahim yang diterjemahkan dalam buku tersebut sebagai berikut:
“… ia realiti yang terbentang ‘penuh telanjang’ di dunia kita ini, bahawa golongan-golongan agama tertentu menganggap hanya ajaran asasi tertentu sahaja yang membawa ke jalan keselamatan, syurga. Pandangan yang eksklusif, tertutup ini, sayangnya tersebar secara meluas dalam hubungan antara agama-agama dan juga dalam kerangka mereka yang sama agamanya….”
“Kembali ke belakang, dalam abad ke-13, penyair sufi Rumi menggubah dalam Masnawinya: Lampu-lampu berlainan, tetapi Cahaya itu sama, ia datang dari Seberang Sana; kalau anda terus menerus melihat pada lampu, kamu tersesat; kerana dari sana timbul rupa lahir pada bilangan dan kemajemukan….”
“Pada hari ini, kebebasan beragama yang tanpanya tidak ada pluralisme agama, adalah suatu kebebasan yang tertanam teguh sebagai kebebasan dalam perelembagaan dalam negara-negara demokrasi yang terkenal teguh kedudukannya. Dengan demikian, maka memihak kepada sesuatu agama dan tidak yang lain atau memberikannya kedudukan yang merugikan yang lain boleh dianggap sebagai bertentangan dengan semangat pluralisme agama. Tetapi ini masih berlaku walaupun dalam negara-negara demokrasi yang teguh kedudukannya di Eropah, manakala di Timur Tengah pula dan di Asia Tenggara sikap bercanggahan antara dua perkara berlawanan ini disifat sebagai perkara lumrah yang biasa (taken for granted) sehingga akhir-akhir ini.
Sebab itulah maka wacana tentang pluralisme agama mesti berhadapan dengan persoalan asasi berkenaan dengan kebebasan beragama dan dengan mengaitkannya dengan kebebasan dhamir manusia (freedom of conscience). Persoalan yang timbul ialah adakah kepelbagaian agama yang menjadikan dunia terbahagi-bahagi itu menjadi lebih terbahagi-bahagi lagi sifatnya, ataupun penafian kebebasan beragama yang menjadi penyebab baginya.
Saya percaya bahawa saya bukan keseorangan dalam membuat kenyataan bahawa untuk pluralisme agama berkembang subur dalam dunia yang terbahagi-bahagi  sifatnya ini, maka adalah perkara yang tidak boleh diterima dari segi moral untuk seseorang itu berkata kepada orang lain yang mempunyai sistem kepercayaan   lain daripadanya: “Kami beriman kepada Tuhan kami dan kami percaya kami benar, anda percaya kepada tuhan anda, tetapi apa yang anda percaya adalah tidak benar….
Apa juga agamanya, sama ada ia itu Islam, Kristian, Sikh, Hindu dan banyak lagi yang lain, saya percaya bahawa kebenaran-kebenaran yang lebih tinggi (higher truths) yang mengatasi amalan-amalan semata (mere practice)  dan ibadat semuanya terpusat atas kebenaran yang satu itu (singular truth): bahawa dari Allah kita datang dan kepada Allah kita kembali.
Tetapi ada pemimpin-pemimpin tertentu agama-agama dunia yang terus-menerus membuat dakwaan yang eksklusif (exclusivist claims) tentang mereka memiliki kebenaran yang kekal abadi dan tidak sangat menerima perkara-perkara yang sama (commonality) yang menghubungkan kita semua. Kalaulah kita menerima bahawa memang ada persatuan dalam kepelbagaian, maka Pluralisme Agama menjadi satu tenaga penyatuan, bukan sebab bagi perpecahan. Itulah jalannya untuk menarik kita keluar daripada kegelapan kepada cahaya, daripada perang kepada damai, daripada kebencian dan kejahatan kepada kasih sayang dan kebaikan.”
*****
Demikian sejumlah petikan paparan Anwar Ibrahim tentang Pluralisme Agama. Silakan masing-masing menilai sendiri, bagaimana isi pidato Anwar tersebut.  Isi pidato itu sangat jelas mendukung paham Pluralisme Agama. Terlepas dari motivasi pidato tersebut, yang jelas,  pendapat Anwar tentang Pluralisme Agama itu segera menuai banyak debat dan kritik oleh aktivis dan cendekiawan di Malaysia. Mantan Presiden Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) Dr. Yusri bin Dato’ Hj Mohamad, menyatakan, bahwa dengan penekanan pada “kesamaan” dan “kesetaraan” dalam semua hal, termasuk dalam hal beragama, maka Pluralisme Agama akhirnya akan menggerus konsep keyakinan “Iman-kufur”, “tawhid-syirik”. (hal. 190).  Ini artinya, Pluralisme Agama sudah memasuki wilayah yang paling mendasar dalam ajaran Islam, yaitu aspek aqidah atau keimanan.

Dr. Yusri juga mengingatkan bahwa Pluralisme Agama juga mengancam tatanan kelembagaan di Malaysia, dimana saat ini, menurut artikel 3 Perlembagaan Persekutuan, Malaysia  adalah sebuah negara beragama, dan agamanya ialah Islam. Karena itulah, simpul Yusri:  “Pluralisme Agama sangat berpotensi untuk menghakis kemurnian aqidah para penganut Islam di Malaysia secara sedar mahupun tidak. Pluralisme Agama juga membuka pintu kepada kemusyrikan dan kekufuran. Jika sudut aqidah umat Islam sudah berkompromi maka sebenarnya keseluruhan jati-diri keagamaan umat itu sendiri suah tergadai.” (hal. 192).

Cendekiawan Muslim Malaysia, Dr. Mohd Farid Mohd Shahran, menulis, bahwa Pluralisme Agama termasuk bentuk kekeliruan ilmu atau sufasta’iyyah (sophism) yang ditolak oleh aqidah Islam. Pluralisme yang menerima kebenaran semua agama – menurut cara pandang agama masing-masing – adalah jenis sufasta’iyah al-indiyyah yang tidak menerima satu  kebenaran yang objektif dan mutlak, sebagaimana disyaratkan dalam aqidah Islam.  Imam al-Nasafi telah menegaskan kemampuan akal manusia dalam meraih kebenaran mutlak secara bersama dan menolak pandangan nisbi kaum sofis.  Menegaskan pendapat Imam Nasafi, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyatakan: “penyangkalan terhadap kemungkinan dan objektiviti ilmu pengetahuan akan mengakibatkan hancurnya dasar  yang tidak hanya menjadi akar bagi agama, tetapi juga bagi semua jenis sains.” (hal. 193).
Karena itu, Dr. Farid – murid Prof. Syed Naquib al-Attas di ISTAC-IIUM  -- menyimpulkan: “Sekiranya kita menerima paham Pluralisme Agama, ia bukan sahaja bertentangan dengan prinsip aqidah Islam, malah juga bertentangan dengan prinsip akal yang sihat. Ini kerana akal tidak boleh menerima dua hakikat yang sama-sama benar akan tetapi saling bertentangan untuk wujud di satu masa. Ini bertentangan dengan prinsip asas dalam logic iaitu the principle of non-contradiction.” (hal. 193).

Pakar Pluralisme Agama dari Internastional Islamic University Malaysia (IIUM),  Dr. Anis Malik Thoha, menguraikan pandangan Prof. John Hick  yang sering ditempatkan sebagai “nabinya” kaum Pluralis Agama. Kata Hick: “… the great religious traditions are to be regarded as alternative soteriological “spaces” within which, or “ways” along which, men and women can find salvation/liberation/fulfillment.”     Menurut Hick, betapa pun agama-agama itu berbeda satu sama lain, tetapi hakikatnya agama-agama itu adalah media atau cara-cara/jalan-jalan yang sama abash/valid  dan sama-sama otentik untuk menuju satu tujuan yang satu san sama, atau untuk meraih keselamatan. Dengan demikian, masing-masing dari pemeluk agama-agama tersebut tidak boleh mengklaim bahwa agamanya sendiri yang benar secara absolute dan mutlak.

Dr. Anis mengingatkan, bahwa meskipun sekilas doktrin Pluralisme Agama tampak cantik, indah, dan menjanjikan perdamaian, tetapi jika dicermati dengan seksama, “doktrin ini sesungguhnya telah melakukan pembodohan yang luar biasa dahsyat, penodaan harkat dan martabat manusia, penjungkirbalikan logika normal dan, pada akhirnya, pengingkaran eksistensi agama-agama itu sendiri.” (hal. 169).
*****
Membaca buku “Pluralisme Agama: Satu Gerakan Iblis Memurtadkan Ummah” terbitan Muafakat Malaysia ini saya benar-benar sedih dan khawatir.  Pluralisme Agama yang sebenarnya merupakan musuh dan senjata pemusnah masal terhadap agama-agama justru kini mulai disosialisasikan dan dikembangkan di Malaysia, sebuah negeri Muslim yang masih menempatkan Islam sebagai agama resmi. (Tentang bahaya Pluralisme Agama bagi agama-agama lihat E-Book berjudul: Pluralisme Agama: Musuh Agama-agama, di www.adianhusaini.com).

Yang lebih merisaukan, gagasan Pluralisme Agama ini diusung tokoh terkenal yang sebelumnya sangat dikenal sebagai aktivis Islam.  Fenomena seperti ini juga sudah terjadi di Indonesia. Meskipun MUI sudah mengharamkan faham ini, tetapi Pluralisme Agama terus dikembangkan dan tokoh-tokoh yang pengusungnya dipuja-puja oleh banyak orang, khususnya media massa.

Perkembangan wacana Pluralisme Agama di Malaysia ini menjadi kajian yang menarik. Bagi kaum Muslim di wilayah Melayu-Indonesia, ini merupakan ujian dan tantangan dakwah yang semakin berat.  Kita tidak mungkin lari dari tantangan ini. Kita hanya wajib menjelaskan dan mengingatkan.  Tanggung jawab masing-masing orang di hadapan Allah nantinya.

Yang penting, semoga kita dan keluarga kita terhindar dari paham-paham yang menyesatkan dan semoga Allah melindungi para pejuang Islam, yang terus gigih berjihad fi-sabilillah, dalam penegakan aqidah dan ajaran-ajaran Islam di bumi Melayu-Indonesia. Amin.*/Depok, 5 Oktober 2012).
Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com





@ http://www.hidayatullah.com/




Usai Habibie, Mantan Menteri Malaysia Hina Gus Dur



Mantan Menteri Penerangan Malaysia Zainuddin Maidin sepertinya memang tidak pernah kapok menghina mantan pemimpin Indonesia. Setelah menuduh mantan Presiden B.J Habibie, kali ini Zainudin menghina Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur.

Lewat blognya, pria yang biasa disapa Zam ini, menuduh Habibie dan Gus Dur memiliki kaitan dengan demonstrasi menuntut reformasi di Indonesia pada 1998 silam. Bukan hanya kedua tokoh itu, Zam juga menuduh politisi Amien Rais turut andil bagian dalam demonstrasi itu.

Pada blog pribadinya zamkata.blogspot.com, tokoh yang tergabung dalam keanggotaan Partai Umno itu mengeluarkan tuduhan miring terhadap Gus Dur. Pada blognya, Zam menulis, “Demonstrasi reformasi hasil konspirasi Habibie, Amien Rais, dan Gus Dur." Tuduhan ini ditampilkan oleh Zam pada blog-nya pada Rabu 19 Desember 2012.

Dirinya pun menilai Indonesia tengah tenggelam dalam euforia demokrasi. Dalam tulisan singkatnya, Zam juga menyertakan ucapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang melakukan kunjungan ke Malaysia, Selasa 18 Desember lalu.

""Berhentilah memprojekkan identitas global yang bukannya jati diri sendiri," Inilah mesejnya yang jelas kepada masyarakat Indonesia yang sedang tenggelam dalam euphoria demokrasi." tulis Zainudin melalui blognya.

Tidak hanya itu pria yang menjabat sebagai Menteri Penerangan Malaysia di masa mantan Perdana Menteri Abdullah Badawi tersebut, juga melontarkan nada rasis kepada masyarakat China di Malaysia. Menurutnya warga China di Malaysia bermaksud mengikuti Anwar Ibrahim yang dituduhnya lebih mengutamakan kekerasan.

"Indonesia mahu menghentikannya dan kita mahu memulakannya dengan ajaran Anwar Ibrahim. Orang Cina telah mulai meniru budaya ini dan akibatnya suatu masa nanti akan menimpa diri mereka sendiri. Sayangilah perniagaan anda !," lanjut Zam dalam blognya. Guna mendukung pendapatnya, Zam pun menambahkan foto-foto mengenai protes Bersih di Malaysia, yang berlangsung ricuh.

Seperti tidak ada habisnya Zainudin ini memancing perseteruan dengan Indonesia. Sebelumnya pendapat pribadi Zam telah melukai bangsa Indonesia, setelah ia menghina Habibie dengan sebutan pengkhianat bangsa dan anjing imperialisme.

Namun sebuah komentar menanggapi tulisan di blog tersebut memperingatkan Zam atas tanggapan Habibie mengenai tulisan yang menghinanya beberapa waktu lalu.

Komentar yang ditulis oleh Imam Faisal Ruslan pada 20 Desember 2012 pukul 09.51 itu bertuliskan, "pak ini kata pak Habibie menanggapi tulisan bapak yang ga lebih bagus dari tulisannya Dr. Seuss, anda kenal Dr. Seuss? penulis cerita anak-anak,
"Kalau ada yang menghina Anda anggap saja sebagai pujian bahwa dia berjam-jam memikirkan anda, sedangkan anda tak sedetikpun memikirkan Anda" - Habibie silahkan direnungkan, banyak baca banyak berdoa ya pak, salam."




@http://international.okezone.com/


5 Pelecehan Malaysia Terhadap Indonesia part 2




Malaysia berkonflik dengan Indonesia memang sudah menjadi rahasia umum. Selalu ada saja permasalahan dan provokasi yang dilakukan.

Dimana setelah klaim budaya Indonesia, baru-baru ini Malaysia pun menghina BJ Habibie sebagai penghianat bangsa.

Dan ini bukanlah pertama kalinya, terhitung sudah beberapa kali Malaysia melecehkan Indonesia

Sebutan Indon

Kamis, 13 Desember 2012 09:00Malaysia selalu menyebut negara kita dan TKI yang ada di sana sebagai Indon. Indon ternyata sebutan negatif yang bermakna jongos atau budak (belian). Dan ini sudah berlangsung selama dua dekade.

Obral TKI

Kamis, 13 Desember 2012 09:00Akhir Oktober lalu, Malaysia kembali membuat ulah dengan menempel selembaran iklan berisi diskon terhadap TKI yang diobral di ruang publik.

Iklan selebaran itu berbunyi:

"Indonesian maids now on SALE. Fast and Easy Application!! Now your housework and cooking come easy. You can rest and relax, Deposit only RM 3,500! Price RM 7,500 nett."

Sebut Suporter Indonesia 'Anjing'

Kamis, 13 Desember 2012 09:00Para suporter Malaysia pernah menyamakan Indonesia dengan binatang 'anjing'. Penghinaan itu terjadi saat pertandingan antara Indonesia melawan Laos di Stadion Bukit Jalil Malaysia. Parahnya video ini sengaja diunggah ke Youtube untuk menyulut emosi warga Indonesia.

Klaim Budaya Indonesia

Kamis, 13 Desember 2012 09:00Pada rentang 2007-2012, Malaysia sudah 6 kali mengklaim budaya milik Indonesia sebagai warisan budaya mereka. Klaim Malaysia itu bermula pada November 2007 terhadap kesenian reog ponorogo. Selanjutnya pada Desember 2008 Malaysia mengklaim lagu Rasa Sayange dari Kepulauan Maluku. Lalu klaim batik pada Januari 2009.

Tari pendet yang jelas-jelas dari Bali juga diklaim Malaysia pada Agustus 2009 yang muncul dalam iklan pariwisata negeri jiran yang suka menyatakan diri sebagai The Truly Asia itu. Selanjutnya instrumen dan ansambel musik angklung pada Maret 2010.

Lalu yang terbaru adalah klaim Malaysia atas tari tor-tor dan gondang sambilan yang merupakan asli kesenian dari Sumatera Utara.

Habibie Penghianat Bangsa

Kamis, 13 Desember 2012 09:00Mantan Menteri Penerangan Malaysia Zainudin Maidin menyebut Presiden RI Ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai pengkhianat bangsa. Tudingan ini dia tuliskan pada tajuk rencana sebuah media massa, koran Utusan Malaysia


Memprovokasi! Koran 'Utusan Malaysia' Sebut Habibie Penghianat Bangsa

 

Nama mantan Presiden RI Ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie mendadak termuat di laman internet Malaysia, namun sayang bukan berita baik yang terpampang melainkan dituduh sebagai penghianat bangsa oleh mantan Menteri Penerangan Malaysia Zainudin Maidin.

Kabar pemberitaan miring ini muncul di koran Utusan Malaysia dan juga dimuat dalam laman internet harian berpengaruh di Malaysia itu, pada Senin (10/12) kemarin.

Dalam tulisannya, Maidin menyebut jika penyebab kedudukan singkat Habibie karena telah mengkhianati negaranya, dan juga telah menjadi tamu kehormatan bagi Ketua Umum Partai Keadilan Rakyat Anwar Ibrahim baru-baru ini.

Maidin juga menyebutkan Habibie lengser dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia karena bersekongkol dengan Barat untuk mengadakan referendum di Timor Timur, hingga akhirnya Timor Timur memerdekakan diri pada tahun 1999.

"Beliau mengakhiri jawatan dalam kehinaan setelah menjadi presiden sejak 20 Oktober 1999," tulis Maidin seperti dikutip dari utusan.com.my Selasa (11/12).

Nama Habibie juga di sangkutkan sebagai tersangka penyebab perpecahan rakyat Indonesia, hingg akhirnya Indonesia memiliki 48 partai politik. Dan hal inilah yang dinilai Maidin sebagai bentuk perpecahan politik, kegagalan kepemimpinan Habibie.





 @http://www.infospesial.net/

Setelah Hina Habibie, Malaysia Kini Hina Gus Dur & Amien Rais!

Mantan Menteri Penerangan Malaysia, Zainudin Maidin, telah menylut konflik antara dua kubu negara bertetangga. Setelah menyebut BJ Habibie sebagai 'the dog imperialism', kini Zainudin berganti menghina Amien Rais dan Gus Dur.

Zainudin menyerang Amien Rais dan Gus Dur dengan menyebut dua tokoh besar Indonesia itu berada di balik aksi oposan Malaysia Anwar Ibrahim menggelorakan reformasi demokrasi di Malaysia.
Diserang seperti itu, orang dekat Amin Rais yakni Drajad Wibowo mengeluarkan pendapatnya jika tindakan Zainudin ini sama dengan telah mencemarkan negerinya sendiri.

Menurut Drajad  Amien Rais bersahabat erat dengan pemimpin-pemimpin Malaysia, baik Perdana Menteri Malaysia dan kabinetnya maupun dengan kubu Anwar Ibrahim.
" Jadi, kalau orang ini teriak-teriak soal pak Amien, artinya dia tidak tahu intensitas komunikasi beliau dengan pemimpin-pemimpin Malaysia. Kalau dia tidak tahu, artinya di dalam sendiri dia tidak laku. Jadi saya anggap yang bersangkutan angin lalu saja. Bukan cerminan lingkaran kepemimpinan di Malaysia yang sangat akrab dengan kita," kata Drajad, seperti dilansir Tribunnews.com, Kamis (20/12/2012).

Sedangkan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Syed Munsyi al-Habsyi mengatakan itu hanya penilaian subjektif dan mengemukakan pendapat pribadi. Syed Munsyi meminta semua pihak di Indonesia tidak terlalu berlebihan menanggapi hinaan terhadap Habibie dan Gus Dur.

"Zainudin Maidin itu orang biasa, bukan siapa-siapa. Dia tidak punya jabatan di UMNO," ujarnya seperti melansir dari merdeka.com.



 @http://www.infospesial.net




Tuesday, December 18, 2012

Daftar provinsi yang ibu kotanya bukan kota terbesar

Di bawah ini adalah daftar provinsi di Indonesia yang tidak beribukota di kota terbesarnya. Kota terbesar adalah kota yang memiliki fasilitas dan ekonomi yang lebih lengkap.
Provinsi Ibu kota Kota terbesar
Banten Serang Tangerang
Papua Barat Manokwari Sorong
Kalimantan Timur Samarinda Balikpapan
Kalimantan Utara Tanjung Selor Tarakan
Kepulauan Riau Tanjung Pinang Batam
Maluku Utara Sofifi Ternate

Catatan

Kalimantan Timur

Saat ini Samarinda adalah kota berpenduduk terbanyak di seluruh Kalimantan (berdasarkan sensus penduduk BPS 2010), Balikpapan adalah kota kedua terbanyak penduduknya di Kalimantan Timur. Balikpapan memiliki Bandara Sepinggan sebagai bandara internasional sementara Samarinda hanya Bandara Temindung yang hanya melayani penerbangan lokal. Komando Daerah Militer VI/Mulawarman yang mempunyai lingkup tugas di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan bermarkas di Balikpapan. Kepolisian Daerah Kalimantan Timur bermarkas di Balikpapan.
Samarinda-Balikpapan saat ini bisa ditempuh dengan jalan darat sejauh 115 kilometer atau sekitar 2 jam perjalanan darat.




@http://id.wikipedia.org/