The Knowledge For Our Common

Friday, October 04, 2013

Adakah Kebenaran Didalam Agama ??

Pertanyaannya ialah: tidak adakah kebenaran di dalam agama, di dalam teori, di dalam cita-cita, di dalam kepercayaan? Marilah kita selidiki. Apakah yang kita maksud dengan agama? Jelas bukan agama terorganisir, bukan Hinduisme, bukan Buddhisme, atau Kristianitas—ya ng semuanya adalah kepercayaan terorganisir, dengan propaganda, pertobatan, proselitisme, tekanan, dan sebagainya. Adakah kebenaran di dalam agama terorganisir? Ia mungkin mencakup, menjalin kebenaran, tetapi agama terorganisir itu sendiri tidak benar. Oleh karena itu, agama terorganisir adalah palsu, ia memisahkan manusia dari manusia. Anda seorang Muslim, saya seorang Hindu, yang lain seorang Kristen atau seorang Buddhis—dan kita bertengkar, berbunuh-bunuha n. Adakah kebenaran dalam semua itu? Kita tidak membicarakan agama sebagai pencarian kebenaran, melainkan kita membicarakan apakah ada kebenaran di dalam agama terorganisir. Kita begitu terkondisi oleh agama terorganisir sehingga berpikir di situ ada kebenaran, bahwa dengan menyebut diri seorang Hindu kita menjadi penting, kita akan menemukan Tuhan. Betapa absurdnya, Pak. Untuk menemukan Tuhan, untuk menemukan realitas, harus ada kebajikan. Kebajikan adalah kebebasan, dan hanya melalui kebebasan kebenaran bisa ditemukan—bukan sementara Anda terperangkap dalam cengkeraman agama terorganisir, dengan kepercayaannya. Dan adakah kebenaran dalam teori, dalam cita-cita, dalam kepercayaan? Mengapa Anda punya kepercayaan? Jelas bahwa kepercayaan memberi kepada Anda jaminan, kenyamanan, rasa aman, tuntunan. Dalam diri Anda sendiri Anda ketakutan, Anda ingin dilindungi, Anda ingin bersandar pada seseorang, dan oleh karena itu, Anda menciptakan cita-cita, yang menghalangi Anda memahami apa adanya. Oleh karena itu, cita-cita menjadi penghalang bagi tindakan.

 

J. Krishnamurti - The Book of Life

Tuhan - Tuhan Anda Memecah Belah Anda

Apakah yang terjadi di dunia? Anda memiliki Tuhan Kristen, Tuhan-Tuhan Hindu, kaum Muslim dengan konsep khasnya tentang Allah—masing-ma sing aliran dengan kebenaran khasnya; dan kebenaran-keben aran ini seperti penyakit di dunia memecah-belah manusia. Kebenaran-keben aran ini, di tangan segelintir orang, menjadi alat eksploitasi. Anda mendatangi masing-masing, satu demi satu, mencicipinya, karena Anda mulai kehilangan rasa memilah-milah, karena Anda menderita dan Anda butuh obat, dan Anda menerima obat apa pun yang ditawarkan oleh suatu aliran, apakah Kristen, Hindu, atau aliran lainnya. Jadi, apakah yang tengah terjadi? Tuhan-tuhan Anda memecah-belah Anda, kepercayaan Anda kepada Tuhan memecah-belah Anda, namun Anda berbicara tentang persaudaraan umat manusia, persatuan di dalam Tuhan, dan pada saat yang sama mengingkari apa yang ingin Anda temukan itu sendiri, oleh karena Anda melekat erat kepada kepercayaan-kepercayaan ini sebagai cara paling kuat untuk menghancurkan keterbatasan, padahal mereka justru memperkuatnya. Semua ini begitu gamblang.

J. Krishnamurti - The Book of Life,

Agama Sejati

Tahukah Anda apa agama itu? Agama bukan di dalam mengaji, ia bukan di dalam puja, atau ritual apa pun, ia bukan di dalam pemujaan terhadap Tuhan perunggu atau arca batu, ia bukan di dalam kuil-kuil atau gereja-gereja [tempat ibadah], ia bukan di dalam membaca Bhagavad-Gita atau Alkitab [kitab suci], ia bukan di dalam pengulangan sebuah kata keramat atau di dalam mengikuti takhyul lain yang dibuat manusia. Semua itu bukan agama.

Agama adalah rasa kebaikan, cinta yang bagaikan sungai, hidup, bergerak sepanjang zaman. Dalam keadaan itu Anda akan menemukan bahwa akan datang suatu saat yang di situ tidak ada lagi pencarian sama sekali; dan berakhirnya pencarian ini adalah awal dari sesuatu yang sama sekali lain. Mencari Tuhan, kebenaran, rasa baik sepenuhnya — bukan memupuk kebaikan, kerendahan hati, melainkan mencari sesuatu yang berada di luar buatan atau tipuan pikiran, melainkan merasakan adanya sesuatu itu, hidup di dalamnya, menjadi dia — itulah agama sejati. Tetapi Anda hanya dapat melakukannya apabila Anda meninggalkan genangan kolam yang telah Anda gali untuk diri Anda, lalu terjun ke dalam sungai kehidupan. Maka kehidupan mempunyai cara yang mencengangkan untuk memelihara Anda, oleh karena di situ Anda tidak memelihara diri Anda sendiri. Kehidupan membawa Anda ke mana ia suka, karena Anda adalah bagian darinya; maka tidak ada lagi masalah keamanan, masalah apa yang dikatakan atau tidak dikatakan orang, dan itulah keindahan kehidupan.

J Krishnamurti - The Book of Life,

Tuhan Anda Bukan TUHAN..!!!

Seorang yang percaya kepada Tuhan tidak pernah dapat menemukan Tuhan. Jika Anda terbuka terhadap realitas, tidak mungkin ada kepercayaan terhadap realitas. Jika Anda terbuka terhadap apa yang tak diketahui, tidak mungkin ada kepercayaan terhadapnya. Bagaimana pun juga, kepercayaan adalah suatu bentuk perlindungan-diri, dan hanya batin yang picik percaya kepada Tuhan. Lihat saja kepercayaan para pilot dalam perang, yang berkata Tuhan menemani mereka sementara mereka menjatuhkan bom! Jadi Anda percaya kepada Tuhan ketika Anda membunuh, ketika Anda memperalat dan memeras sesama manusia. Anda memuja Tuhan dan Anda terus memeras uang dengan kejam, menyokong tentara -- sekalipun Anda percaya akan pengampunan, welas asih, kebaikan hati ...

Selama ada kepercayaan, tidak mungkin ada apa yang tak diketahui; Anda tidak bisa merenungkan apa yang tak diketahui; pikiran tidak bisa mengukurnya. Pikiran adalah produk masa lampau; ia adalah hasil hari kemarin; dapatkah batin seperti itu terbuka terhadap apa yang tak diketahui? Ia hanya dapat memproyeksikan suatu gambaran, tetapi proyeksi itu tidak nyata; dengan demikian Tuhan Anda bukan Tuhan -- itu hanya suatu gambaran yang Anda buat sendiri, suatu gambaran untuk memuaskan hati Anda sendiri.

Realitas hanya bisa muncul apabila batin memahami seluruh proses dirinya sendiri dan berhenti. Bila batin sama sekali kosong -- hanya pada saat itulah ia mampu menerima apa yang tak diketahui. Batin tidak akan bersih sampai ia memahami isi hubungan—hubungannya dengan benda-benda, dengan manusia -- sampai ia menegakkan hubungan yang benar dengan segala sesuatu. Sebelum ia memahami seluruh proses konflik dalam hubungan, batin tidak mungkin bebas.

Hanya apabila batin sama sekali diam, sepenuhnya tidak aktif, tidak memproyeksikan, bila ia tidak lagi mencari dan sama sekali hening -- hanya pada saat itulah apa yang abadi dan berada di luar waktu muncul.

~ J Krishnamurti - The Book of Life,

Pahami Proses Berpikir Anda,,!!!

Misalkan Anda tidak pernah membaca sebuah buku, entah buku agama entah buku psikologi, dan Anda harus menemukan makna, arti dari kehidupan. Bagaimana Anda melakukannya?

Misalkan tidak ada Guru-Guru, tidak ada lembaga-lembaga agama, tidak ada Buddha, tidak ada Kristus, dan Anda harus mulai dari awal. Bagaimana Anda melakukannya?

Pertama-tama, Anda perlu memahami proses berpikir Anda, bukan? - dan tidak memproyeksikan diri Anda, pikiran-pikiran Anda, ke masa depan dan menciptakan suatu Tuhan yang menyenangkan hati Anda; itu terlalu kekanak-kanakan.

Jadi, pertama-tama Anda perlu memahami proses berpikir Anda. Itulah satu-satunya jalan untuk menemukan sesuatu yang baru, bukan?

Bila kita berkata bahwa pembelajaran dan pengetahuan merupakan penghalang, rintangan, yang kita maksudkan bukan pengetahuan teknis --bagaimana mengemudikan mobil, bagaimana menjalankan mesin-- atau efisiensi yang dihasilkan oleh pengetahuan seperti itu.

Yang kita maksudkan adalah sesuatu yang lain: suatu rasa kebahagiaan kreatif yang tidak dapat dihasilkan oleh pengetahuan atau pembelajaran sebanyak apa pun. Menjadi kreatif --dalam arti kata itu yang paling sejati-- berarti bebas dari masa lampau dari saat ke saat, oleh karena masa lampaulah yang terus-menerus membayangi masa kini.
Sekadar berpegang pada informasi, pada pengalaman orang lain, pada apa yang dikatakan orang lain, betapa pun luhurnya, dan mencoba menyesuaikan tindakan Anda dengan itu -- semua itu adalah pengetahuan, bukan?

Tetapi, untuk menemukan sesuatu yang baru, Anda harus berangkat sendiri; Anda harus mulai melangkah dalam suatu perjalanan, dengan telanjang sama sekali, terutama telanjang dari pengetahuan, oleh karena mudah sekali --melalui pengetahuan atau kepercayaan-- untuk memperoleh pengalaman, tetapi pengalaman-pengalaman ini hanyalah sekadar produk dari proyeksi diri, dan oleh karena itu sama sekali tidak nyata, palsu.

Jiddu Krishnamurti
Buku Kehidupan: Pengetahuan

Pengetahuaan Bukan Kearifan

Di dalam mencari pengetahuan, di dalam keinginan menumpuk, kita kehilangan cinta, kita menumpulkan rasa akan keindahan, kepekaan akan kekejaman; makin lama kita makin terspesialisasi, dan makin kurang terintegrasi.

Kearifan tidak bisa digantikan oleh pengetahuan; sebanyak apa pun penjelasan diberikan, sebanyak apa pun fakta dikumpulkan, tidak akan membebaskan manusia dari penderitaan.

Pengetahuan itu perlu, sains mempunyai tempatnya; tetapi jika batin dan hati tercekik oleh pengetahuan, dan jika sebab-musabab penderitaan dicoba untuk dihilangkan dengan dijelaskan, hidup menjadi sia-sia dan tanpa makna. ...

Informasi, pengetahuan akan fakta-fakta, sekalipun terus bertambah, pada dasarnya selalu terbatas. Kearifan tidak terbatas; ia mencakup pengetahuan, dan tindakan; tetapi kita memegang suatu cabang, dan mengira itu seluruh pohon.

Melalui pengetahuan tentang sebagian, kita tidak pernah merealisasikan sukacita dari keseluruhan. Intelek tidak pernah dapat menjangkau keseluruhan, oleh karena ia hanyalah sekadar suatu segmen, bagian.

Kita telah memisahkan intelek dari perasaan, dan mengembangkan intelek sambil mengesampingkan perasaan. Kita seperti kursi berkaki tiga, dengan satu kaki jauh lebih panjang daripada kaki-kaki yang lain, dan kita tidak punya keseimbangan.

Kita terdidik untuk menjadi intelektual. Pendidikan kita memupuk intelek agar menjadi tajam, licin, selalu berupaya memiliki, sehingga intelek paling berperan dalam kehidupan kita.

Kecerdasan jauh lebih besar daripada intelek, oleh karena kecerdasan adalah paduan antara akal budi dan cinta; tetapi kecerdasan hanya mungkin ada apabila terdapat pengenalan-diri, pemahaman yang mendalam akan keseluruhan proses diri.

Jiddu Krishnamurti
Buku Kehidupan: Pengetahuan

Apakah Penderitaan Itu Perlu ???

Tubuh kita memiliki inteligensinya sendiri. Kalau
ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh, maka tubuh memberikan sinyal yang kita tangkap sebagai rasa sakit.

Rasa sakit berguna untuk memberitahu ada sesuatu yang perlu diperhatikan pada tubuh kita.

Ada seorang penderita kusta di perkampungan
orang kusta di Tangerang. Kedua kakinya mati rasa.

Suatu hari ia mencangkul kebun di belakang rumahnya dari pagi hingga sore. Ketika senja tiba, ia berhenti mencangkul dan masuk ke beranda rumahnya. Setelah duduk, ia baru merasa sangat lelah, badannya panas-dingin. Ia mencoba membuka sepatu bootnya. Tidak seperti biasanya, kali ini sulit sekali sepatu dibuka. Setelah dilihat-lihat, sepatu
kanannya penuh darah yang mengucur dari kakinya.

Ternyata, ia melihat ada tonggak bambu yang menembus sepatu dan menancap ke kakinya.
Darah mengucur, tetapi ia tidak merasa apa pun.

Kemudian ia dilarikan ke rumah sakit, untunglah jiwanya masih tertolong.

Seandainya ia merasakan sakit ketika tonggak
bambu merobek kakinya, maka ia tidak perlu menunggu terlalu lama untuk bertindak. Karena tidak merasa sakit, ia justru berada dalam bahaya.

Kalau ada sesuatu yang tidak beres pada tubuh tetapi tubuh tidak memberikan sinyal sakit, maka kita seperti berada dalam bahaya tetapi tidak sadar
akan bahaya tersebut.
Situasi seperti itu jauh lebih berbahaya daripada datangnya bahaya itu sendiri.

Seperti halnya sakit fisik, apakah sakit psikologis atau penderitaan psikologis itu perlu?

Penderitaan psikologis berfungsi seperti sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan batin kita.

Penderitaan adalah goncangan bagi batin yang merasa aman.

Selama batin hidup dalam cangkang diri, ia merasa aman.

Tetapi, batin yang merasa
aman terus terancam oleh goncangan penderitaan.

Secara psikologis Anda merasa aman, karena
memiliki uang dalam jumlah tertentu sekaligus takut akan masa depan, merasa bahagia karena
memiliki sahabat atau pasangan hidup sekaligus
takut kehilangan mereka, menemukan kepastian
dalam ide atau kepercayaan tertentu dan melekatinya.
Batin yang demikian adalah batin yang tidur.

Batin yang tidur adalah batin yang merasa aman hidup di bawah keterkondisian.

Kalau kondisi-kondisi itu terganggu, maka batin tergoncang, batin menderita.

Semakin Anda bahagia dan melekati apa
saja yang mendatangkan kebahagiaan, sebenarnya
Anda sudah hidup dalam penderitaan.

Tetapi, kebanyakan orang menganggap penderitaan seperti ini sebagai kebahagiaan.

Penderitaan berguna agar batin kita bangun, agar melihat Kebenaran dan sadar bahwa penderitaan
tidak ada gunanya lagi.

Ketika penderitaan berakhir, barangkali Cinta dan welas asih terlahir.

Bisakah kita tinggal bersama penderitaan itu secara total
setiap kali penderitaan muncul dan membiarkannya
berakhir?*

WISDOM vs WAHYU?

SAHABAT: [status]

Otak atik gathuk.
Wisdom timbul ketika pikiran padam. Wahyu diterima the chosen one baik lgs atau lewat malaikat ketika ada si aku yg mendengar wahyu tsb. Artinya, wahyu tsb adl hasil proses pencerapan, bahkan bisa jadi produk pikiran. Nah mana yg lbh bernilai wisdom atau wahyu? Mohon pencerahan Romo dan rekans.

----------

HUDOYO HUPUDIO:
Tentang wisdom, saya rasa kita semua sudah paham akan hal itu, sekalipun mungkin baru secara teoretis.

<<Wahyu diterima the chosen one baik lgs atau lewat malaikat ketika ada si aku yg mendengar wahyu tsb.>>

Kalau ini merupakan deskripsi dari apa yg sesungguhnya terjadi, saya pun tidak percaya itu.

Tetapi tidak mungkinkah ini merupakan sebuah kiasan (allegory) tentang apa yg sesungguhnya terjadi, yg disampaikan sesuai budaya, alam pikiran dan zamannya? Mungkinkah ini merupakan sebuah telunjuk yg menunjuk kepada bulan; yg kemudian oleh para penganutnya telunjuk itu dianggap sebagai bulan itu sendiri, dan dijadikan kitab suci?

Saya melihatnya begini: di satu pihak, wahyu adalah fenomena dasar yg dianggap sebagai sumber dari agama2 samawi. Di lain pihak, saya juga melihat fakta, bahwa agama2 samawi itu, sepanjang sejarah masing2, telah menghasilkan orang2 suci, yg nota bene percaya kepada kebenaran wahyu itu. Bagaimana saya harus menjelaskan fakta ini dalam kaitan dg wahyu?

HUDOYO HUPUDIO:
Bernadette Roberts seorang Katolik; ia percaya penuh kepada kebenaran Alkitab sebagai firman (wahyu) Allah. Ia mengalami 'penyatuan dg Tuhan' ketika masih remaja sebagai suster di sebuah biara; dan kemudian selama 20 tahun ia hidup sebagai seorang profesional (guru) dan ibu rumah tangga dg 4 anak laki2, sementara setiap malam ia berada bersama Tuhan selama beberapa jam di dalam 'Titik Hening' di lubuk batinnya. Baru menjelang usia 50 tahun ia mengalami pencerahan/pembebasan dg lenyapnya aku/diri bersama Tuhan (yg telah diakrabinya selama lebih dari 20 tahun). Orangnya masih hidup sampai sekarang.

Kalau boleh saya ringkas: selama 20 tahun Bernadette Roberts hidup saleh 'menyatu dg Tuhan' di bawah cahaya 'wahyu Tuhan'. Kehidupan ini kemudian secara tidak langsung mengantarkannya kepada pengalaman dan kearifan tertinggi/terakhir: yaitu lenyapnya aku/dirinya bersama Tuhan untuk selamanya.

[dari grup 'Titik Hening']

Suara Anak Muda

JOHAN CIMEL FULL: [status]

Jangan mengenang masa lampau! Ia sudah tiada karena mati

Jangan memikirkan masa depan! Ia itu misteri
bahwasannya hidup itu penuh ketidakpastian

Namun cobalah melangkah berjalan di kehidupan masa sekarang saat ini tanpa daya upaya lari dari realitas tapi hidup bersama kematian di dalam keheningan tanpa masa lampau & depan sekalipun

---------------

NICO TAMBUNAN:
apa makna dari susunan kalimat yg anda buat ?
silahkan...

JOHAN CIMEL FULL:
Nico Tambunan : salam mas, bukan dibuat semata2 dalam kata2 yang dirangkai menjadi kalimat khusus penuh dengan teka-teki namun itu berdasarkan pengalaman batin saya pribadi selama melakoni praktek kesadaran ini karena kebetulan saya yang mengalaminya maka sebab itu saya sarankan jangan sesekali mecoba memahami kata2 tsb dengan menyandingkan dengan gagasan, konsep ataupun teori ini-itu dari segala sumber refensi manapun itu oleh apa yang anda kenal & ketahui, geserlah semua itu! saya tekankan bahwa kata2 hanya sebagai petunjuk saja. anda tentu paham oleh apa yang tepenting dari teori adalah praktek, bukan?
saya pribadi tidaklah penting dalam hal ini akan tetapi andalah harus menjadi guru bagi diri anda sendiri
jadikan postingan saya tsb jadikan sebagai cermin ntuk berkaca melihat ke-aku-an dalam berelasi dengan melihat apa adanya bukan karena ada apanya tanpa berlari darinya tetapi masuk kedalam eksistensi keseluruhan lika-liku prosesnya terjadi tanpa terhanyut bawa emosi maka dari itu alih2, sadari saja pikiran/si aku ini dari saat ke saat tanpa menolak serta terseret olehnya namun diam pasif niscaya kelak jika anda sampai ke taraf titik hening walau seperkian detik, batin ini bertransformasi.
catatan : jangan terbuai ataupun terhanyut oleh pengalaman tsb walau itu membuat anda terpesona karena berarti anda stagnasi melekatinya namun kembali seperti semula latihan kesadaran maka kesadaran kian berkembang dengan progresifnya
jawabannya sendiri akan hadir sebab jawabannya tidak jauh dari persoalannya jika anda benar2 memahami penelusuran didalamnya.
saya akan jelaskan dengan bahasa segamblang mungkin agar mudah anda mencernanya
pikiran itu terkondisi oleh masa lampaunya yakni melekati oleh apa yang ia kenali & ketahui serta terbatas oleh hasil memupuk pengetahuannya di masa lampau (waktu), sedangkan batin adalah isi dari segala keinginan, ambisi, harapan, aksi-reaksi oleh objek dari luar ketika mencerap suatu objek dengan indera, dapatkah kita mencerapnya tanpa ada proses berpikir?
pahamilah bahwasannya pikiran ini bersifat dualistik, subjektif, terbatas & terkondisi.
gerak pikiran itu sendiri yang pertama murni (pure) melihat objek apapun itu sedangkan yang ke 2 adalah menanggapi masuk yang ke 3 inilah dimana ia menyela, menilai, berspekulasi dsb. pikiran 2 & 3 adalah penderitaan psikologis eksistensial manusia. jika anda menuruti keinginan maka celakalah olehnya sebab keinginan itu tidak memiliki titik jeda kalaupun teraih/didapati maka dari keinginan sebelumnya lahir keinginan barunya & itu bercabang2 tanpa hentinya akan suatu harapan pencapaian tujuan cita2 (masa depan) yang dikehendaki itu ketika batin konflik oleh ketidakpuasaannya maka dari itulah mengejar keinginan bagaikan mengarungi laut samudra yang begitu luas di bumi tanpa berujung & itulah penderitaan.
hidup bersama kematian adalah padam/lenyapnya pikiran ini dimana tidak ada si aku yang ingin eksis & diakui itu. didalam keheningan tanpa/tidaknya terseret gerak arus pikiran ini, dimana yang didengar hanyalah mendengar, yang dilihat hanyalah melihat, yang dicerap hanyalah mencerapnya semua hal ini non-proses berpikir ini-itu maka adalah sebagaimana apa adanya suatu realitas.
ketika anda dengan seksama memahami oleh apa yang saya katakan ini maka disitulah ada pembebasan dimana anda menyadari konflik pada batin oleh ketakutan (cemas, khawatir, gelisah) yang mendera anda. cobalah dengan mempraktekkan MMD diaktualisasikan sebagai pengalaman empiris dalam kehidupan pribadi anda seperti halnya prinsip ajaran Sang Buddha ada "Ehipassiko" yaitu datang & buktikan.
hemat saya; kebenaran itu adalah apa yang dialami bukan.eksistensi atas keberadaannya & ia tak bertempat tidak juga dapat dipegang maka dari itu mengalami adalah hal yang sangat penting serta vital ntuk mengenal diri ini
persepsi meditasi yang saya lakoni saat ini sampai kapan pun itu sudah menjadi sebagai langkah awal & terakhir ntuk terbebas dari penderitaan dari melekati beban psikologis yang ada di dunia fana ini. kunci dari semua ini hanyalah tujuannya agar kita "sadar/eling" setiap saat. saya sudah menjadikan MMD bagian dari kehidupan saya pribadi guna agar selalu was2 terhadap gerak pikiran ini oleh si aku itu, agar tidak sampai terseret olehnya.
sekian penyampaian dalam pemaparan saya & selamat bermeditasi untuk anda serta salam kenal mas nico

NICO TAMBUNAN:
@JCF... thx sdh merespon pertanyaan saya.
saya baca-baca dulu ya...

JOHAN CIMEL FUL:
Nico Tambunan : sama2 mas nico, silahkan. semoga kesadaran kita kian berkembang dengan progresifnya

HUDOYO HUPUDIO:
Johan: "Namun cobalah melangkah berjalan di kehidupan masa sekarang saat ini tanpa daya upaya lari dari realitas tapi hidup bersama kematian di dalam keheningan tanpa masa lampau & depan sekalipun"

Pemikiran Johan sama dg pemikiran Krishnamurti. Pada suatu hari, Krishnamurti ditanya, bisakah dia meringkas ajarannya dalam satu kalimat saja. Jawab Krishnamurti:

"Cobalah tanpa upaya hidup bersama kematian di dalam keheningan tanpa masa depan."
("Attempt without effort to live with death in futureless silence.")

[Catatan: Johan Cimel Full adalah salah satu anggota grup 'Titik Hening' termuda; ia lahir pada 11 November 1993.]

[dari grup 'Titik Hening']

Tidak Ada Kebebasan Berpikir

Saya tidak tahu apakah jelas bagi masing-masing dari kita bahwa kita hidup dalam kontradiksi. Kita bicara tentang perdamaian, dan bersiap-siap untuk perang. Kita bicara tentang tanpa-kekerasan, dan secara mendasar keras. Kita bicara tentang menjadi baik, dan kita tidak baik. Kita bicara tentang cinta, dan kita penuh ambisi, penuh sikap kompetitif, penuh efisiensi yang tak kenal ampun. Jadi ada kontradiksi. Tindakan yang berasal dari kontradiksi hanya melahirkan frustrasi dan menghasilkan kontradiksi lebih jauh. ...

Begini, Bapak-Bapak, semua pikiran bersifat parsial; pikiran tidak pernah total. Pikiran adalah respons dari ingatan; dan ingatan selalu bersifat parsial, oleh karena ingatan adalah hasil dari pengalaman. Jadi, pikiran adalah reaksi dari batin yang terkondisi oleh pengalaman. Semua pemikiran, semua pengalaman, semua pengetahuan mau tidak mau bersifat parsial; oleh karena itu, pikiran tidak dapat memecahkan banyak masalah yang kita hadapi.

Anda mungkin menggunakan akal budi secara logis, secara waras, tentang banyak masalah ini; tetapi jika Anda mengamati batin Anda sendiri, Anda akan melihat bahwa pemikiran Anda terkondisi oleh situasi Anda, oleh budaya tempat Anda dilahirkan, oleh makanan yang Anda makan, oleh iklim tempat Anda tinggal, oleh koran yang Anda baca, oleh tekanan dan pengaruh dari kehidupan Anda sehari-hari. ...

Jadi, kita harus memahami dengan jelas sekali bahwa pemikiran kita adalah respons dari ingatan, dan ingatan bersifat mekanistik. Pengetahuan tidak pernah tuntas, dan semua pemikiran yang lahir dari pengetahuan bersifat terbatas, parsial, tidak pernah bebas.

Jadi, tidak ada kebebasan berpikir. Tetapi kita dapat mulai menemukan suatu kebebasan yang bukan proses pikiran, dan yang di situ batin sekadar sadar akan segenap konflik-konfliknya dan segenap pengaruh yang menimpanya.


Jiddu Krishnamurti
Buku Kehidupan: Pikiran