The Knowledge For Our Common

Wednesday, October 02, 2013

Indonesia Hanya Pecundang di KTT APEC




Posisi Indonesia dalam KTT APEC 2013 di Bali hanya sebagai pecundang.

Tidak ada yang bisa dibanggakan, karena Indonesia tidak memiliki daya tahan yang kuat dalam persaingan dunia global, khususnya dalam liberalisasi ekonomi dan investasi. 

Justru liberalisasi yang didukung Indonesia itu hanya akan menciptakan ketimpangan, dan Indonesia akan menjadi pecundang. Karena itu, siapa pun presiden terpilih pada Pemilu 2014 nanti,  Indonesia akan tetap dimanfaatkan oleh Amerika Serikat (AS).

“APEC itu peluang dan ancaman. Kita bisa sebagai pecundang atau penantang. Bagi saya, kita pecundang,” kata pengamat politik ekonomi Ichsanudin Noorsy dalam diskusi “APEC dan empat Pilar Bangsa” bersama Ketua FPKB MPR RI,   Lukman Edy dan staf khusus Presiden SBY,  Firmanzah di Gedung MPR RI Jakarta, Senin (30/9).

Ichsanudin mengatakan, dari berbagai indikator, pemerintah Indonesia tidak bisa memainkan peran yang menguntungkan di KTT APEC.

Di kawasan ASEAN saja, kata dia, Indonesia selalu dalam posisi korban, terutama korban Singapura, Malaysia, dan Thailand.

“Buktinya, pada 15 Februari 2005, Presiden SBY meminta perjanjian ekstradisi ke Singapura, tetapi yang didapat adalah jaminan investasi Singapura di Indonesia. Ini bukti kita lemah,” katanya.

Sementara itu, Lukman Edy mengatakan, ada dua kepentingan dalam konteks APEC.

Pertama, negara-negara mendorong liberalisasi perdagangan dan investasi.

Kedua, ada kepentingan yang ingin mengubah kesepakatan dalam APEC itu sendiri, terutama untuk menjaga kepentingan ekonomi dalam negeri setiap negara anggota.

“Dalam konteks ini, Indonesia berada di mana? Kalau menurut saya, Indonesia masuk dalam kepentingan pertama, cenderung mendorong liberalisasi perdagangan,” katanya.

Contohnya, Bogor Goals tak bicara lagi perlindungan dalam negeri, tetapi mendesak liberalisasi perdagangan.

“Fakta memang, sekitar 20 persen ekspor kita ke negara-negara anggota APEC, tetapi hasil akhirnya tetap defisit,” katanya.  

Anehnya, kata Lukman Edy, Indonesia tidak pro aktif memperjuangkan liberalisasi sektoral. Justru hal ini lebih disuarakan oleh negara-negara lain.  

“Sebenarnya dalam APEC ini, Indonesia mau membela yang mana? Apakah kita masuk kategori negara maju, walau kenyataannya kesenjangan masih tetap ada. Kenapa Indonesia tidak suarakan kesenjangan itu?” katanya.  

Lukman berharap, walau Indonesia tidak menyuarakan kesenjangan itu, tetapi memberi dukungan kepada negara-negara berkembang lainnya. Itu yang perlu dilakukan.  

“Karena kalau Indonesia mengklaim sebagai negara maju, ini ibarat lebih besar pasak dari tiang. Tetapi itulah yang terjadi,” katanya. 

Firmansyah mengatakan, keikutsertaan Indonesia dalam APEC untuk menjalankan amanat konstitusi, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Apalagi Indonesia sudah dua kali menjadi tuan rumah  KTT APEC, yakni pada 1994 dan 2013 ini.

“Jadi, kita ikut mendorong pengurangan kesenjangan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur, karena dana APBN tak mencukupi. Nilai investasi asing khususnya  lima  negara besar (AS, Australia, Jepang, Korsel, dan Singapura) saat ini mencapai Rp 647 triliun. Itu yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi dunia,” katanya.





 @http://www.suarapembaruan.com/


Tak Hanya Batik China, Batik Malaysia pun Dijual di Indonesia



Tidak hanya batik buatan China, batik 'Made in Malaysia' pun nyatanya telah menembus pasar lokal Indonesia. Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengatakan batik Malaysia yang beredar di pasaran lokal Indonesia sangat kecil dan tidak sebesar batik China.

"Batik China di pasar kita itu besar rembesannya, kalo batik Malaysia kecil hanya 1%," ungkap Ade saat dihubungi detikFinance, kamis (21/3/2013).

Ia pun mengatakan alasan batik Malaysia sangat sedikit dijumpai di pasaran Indonesia adalah karena mahalnya harga jual batik tersebut. Per potong baju kemeja batik asal Malaysia model standar dijual dengan harga Rp 60.000.

"Harga jualnya tidak murah batik Malaysia itu. Batik Malaysia lebih mahal dari Indonesia. kisaran harga kalo Malaysia 1 kemeja bahan model standar sudah Rp 60 ribu/potong sedangkan Indonesia Rp 30-40 ribu sedangkan China Rp 12-15 ribu/potong," imbuhnya.

Namun ia menegaskan bahwa yang perlu diwaspadai adalah batik China. Ia berpendapat karena harga jual yang relatif murah, batik China bisa menjadi primadona masyarakat Indonesia dalam berpakaian.

"Lihat deh harga jual batik China harganya Rp 12-15 ribu/helai, matilah batik kita," cetusnya.




 @http://finance.detik.com/

Produk Batik Indonesia Sulit Masuk Pasar Malaysia




Batik Malaysia dijual di Indonesia itu sudah biasa, namun bagaimana jika batik Indonesia dijual ke Malaysia?

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan sulit bagi pengusaha Indonesia untuk menjual batik di negara Jiran tersebut.

"Kalau batik Malaysia dijual di Indonesia sudah ada dan terjadi sedangkan kalau kita bawa batik ke Malaysia kita tidak boleh menjual apalagi ketemu Bea Cukai sana tentu kita dilarang," kata Ade saat dihubungi detikFinance, Kamis (21/3/2013).

Ia bahkan mengungkapkan pendatang asal Indonesia yang menggunakan atau membawa produk batik (baju maupun kain batik) ke Malaysia dilarang masuk. Hal ini mempertegas dugaan bahwa Malaysia melakukan proteksi terhadap batik buatannya terhadap produk luar.

"Ini masalah besar dan sudah terjadi sejak tahun 90-an sampai sekarang dan mereka tidak mencabut soal kebijakan itu. Bayangkan kita yang hanya sebagai pendatang atau sebagai penumpang umum membawa batik sudah dilarang masuk ke Malaysia apalagi dijual," ujarnya.

Ade meminta pemerintah untuk bertindak tegas terhadap kebijakan proteksi yang dikeluarkan Malaysia. Menurutnya kebijakan ini sangat merugikan Indonesia, ia meragukan pembatik Malaysia murni dari orang Malaysia asli.

"Kalau kita bawa batik ke Malaysia selalu kita dilarang jadi seharus sebanding dan pemerintah harus bertindak tegas terhadap kebijakan Malaysia ini. Kemudian saya meragukan apakah orang Malaysia yang membatik atau malah orang Indonesia yang disuruh membatik dengan bayaran yang lebih tinggi ketimbang di dalam negerii. Ini juga masalah besar," cetusnya. 


 @http://finance.detik.com/


Jokowi: Batik adalah Karya Masyarakat




Sejak 2 Oktober 2009, United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi asli Indonesia. Berawal dari sini, pemerintah menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik.

Pada hari ini, sebagian besar masyarakat Jakarta mengenakan baju batik, tak terkecuali Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Kali ini, Jokowi mengenakan kemeja batik modern hitam dengan motif bunga-bunga kecil berwarna coklat.

Bagi mantan Wali Kota Surakarta tersebut, batik merupakan hasil karya masyarakat Indonesia yang menunjukkan identitas budaya. "Batik ini kan diproduksi oleh perajin di kampung-kampung, handmade, dibuat dengan tangan. Ini juga menyangkut sebuah karya yang dihasilkan masyarakat. Sehingga kalau kita tidak menghargai ini, siapa yang menghargai," ujar dia.

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewajibkan pegawai negeri sipil (PNS) untuk mengenakan batik dan sandariah (pakaian khas betawi) setiap dua hari dalam minggunya. Batik dipakai setiap Kamis dan sandariah pada Jumat.


 @http://www.metrotvnews.com

Dahlan Iskan tidak Tahu Hari Batik Nasional




Menteri BUMN Dahlan Iskan menyambut Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2013, dengan mengenakan pakaian batik, padahal dalam kesehariannya selalu mengenakan kemeja putih lengan panjang.

Saat melakukan pertemuan dengan Gubernur DKI Jakarta Jokowi di Kantor Balairang Pemprov DKI, Rabu (2/10), Dahlan mengenakan batik hijau lengan pendek.

Sejak kedatangan Dahlan, para awak media sudah mewanti-wanti salah satu yang akan ditanyakan adalah soal batik yang dikenakannya.

Dahlan mengaku tidak mengetahui pada 2 Oktober 2013 pemerintah mengimbau seluruh masyarakat mengenakan kemeja batik.

"Terus terang saya tidak tahu Hari Batik Nasional itu. Untungnya tadi malam saya diingatkan teman-teman supaya memakai kemeja batik," ujarnya.

Namun ukuran kemeja yang dikenakannya terlalu besar sehingga terlihat kurang pas di tubuh suami dari Ny Nafsiah Sabri ini.

Benar saja, Dahlan mengaku batik yang dipakainya dipinjam dari sopir pribadinya. "Ya bener. Ini batik lengan pendek saya pinjam dari Sahidin (Sahidin). Saya punya batik lengan panjang, tapi mau coba lengan pendek," ujar Dahlan.

Saat itu pula, pria kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 ini langsung bergaya di depan wartawan. "Lengan pendek enak juga. Lebih ganteng atau tidak?" katanya. 




 @http://www.metrotvnews.com/


Hari batik, Dahlan pinjam batik sopir




Menteri BUMN Dahlan Iskan hari ini menanggalkan baju putihnya dan mengenakan batik lengan pendek. Itu guna memeringati hari batik nasional yang jatuh pada hari ini.
Dia bercerita, dirinya diingatkan oleh banyak orang lewat layanan pesan pendek untuk memakai batik hari ini. Lantaran cuma punya batik lengan panjang, Dahlan berinisiatif untuk meminjam batik lengan pendek milik Sahidin, sopirnya.
"Tadi malan ada yang mengingatkan saya pakai sms, besok hari batik harus menggunakan batik. Saya minta sopir saya menyiapkan dan saya pinjam batik dia," kata Dahlan saat ditemui di Balai Kota, Jakarta, Rabu (2/10).
Alhasil, batik lengan pendek yang dipakai Dahlan kebesaran. "Saya suka lengan pendek karena lebih enak buat kerja. Agak kegedean karena Sahidin lebih besar dari saya. Tidak tahu tambah ganteng atau tidak."






@http://www.merdeka.com/

Hari Batik, Ahok pakai batik pemberian Jokowi




Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hari ini mengenakan batik pemberian Gubernur Joko Widodo. Batik berwarna cokelat keemasan itu dipakai bersamaan dengan Hari Batik.

"Makanya ini pakai batik, pemberian pak Jokowi. Enak sih ini," ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Rabu (2/10).

Politikus Gerindra itu mengaku bangga dengan pakaian batik yang kini diakui oleh dunia internasional. Sebab, batik merupakan salah satu ikon Indonesia.

"Selamat Hari Batik. Kita sangat bangga akhirnya batik betul-betul menjadi milik kita dan semua orang pakai batik. Batik memang keren," katanya.



 @http://www.merdeka.com/


Jokowi blusukan pantau tempat nongkrong anak Jakarta malam hari




Pemprov DKI masih mengkaji rencana pemberlakuan jam wajib belajar bagi anak sekolah di Jakarta. Bahkan Gubernur Joko Widodo telah mengajak pakar dunia pendidikan, ulama, pelajar, komite sekolah, dan pihak orang tua siswa, untuk berdiskusi soal kebijakan ini.

"Simpel saja aturannya, jangan dibuat rumit sampai bikin siswa tertekan," kata Jokowi, sapaan Joko Widodo, di Balai Kota, Selasa (2/10).
Jokowi kemudian menirukan suara sirine, untuk menjelaskan kalau jam malam itu nanti tidak akan menakutkan.

Jokowi membantah jika aturan jam wajib belajar di beberapa wilayah di Jakarta sudah diterapkan. Yang terjadi sebenarnya adalah, kata Jokowi, dirinya akan meninjau lokasi percobaan pemberlakuan aturan tersebut.

"Siapa bilang malam ini sudah dimulai jam malam? Saya mau turun malam ini untuk lihat kondisi lapangannya seperti apa untuk lingkungan yang akan dijadikan lokasi percobaan," ujar Jokowi.

Lebih lanjut Jokowi menjelaskan, dengan meninjau langsung ke lapangan, pihaknya lebih mengetahui kondisi lingkungan yang sebenarnya kemudian disesuaikan dengan aturan yang akan diberlakukan. Tinjauan ke lapangan ini, lanjut Jokowi, sekaligus untuk mengetahui penyebab tawuran antarpelajar yang belakang marak terjadi.

Jika aturan wajib belajar ini sukses diterapkan, selanjutnya akan dilakukan pengawasan di tempat-tempat yang dijadikan lokasi nongkrong pelajar. Terutama minimarket dengan konsep kafe yang banyak didatangi siswa usai sekolah atau pada saat jam malam berlaku.

"Perlahan dulu, satu-satu. Kalau sudah ada respon dan berhasil. Baru kemudian diberlakukan di seluruh Jakarta dan itu bisa jadi akan mengarah ke sana," kata Jokowi.


 @http://www.merdeka.com/




Ribuan warga Solo bentangkan kain jarik terpanjang dunia




Ribuan siswa SMA Batik 1 dan warga Solo, Jawa Tengah membentangkan kain jarik batik sepanjang 4.100 meter di Jalan Slamet Riyadi, Minggu (29/9) pagi. Bentangan kain batik tersebut merupakan kumpulan dari 2 ribu kain jarik yang disambung tanpa putus, dari kawasan Purwosari hingga Bundaran Gladag.

Aksi yang dilakukan dalam rangka menyambut Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober tersebut tercatat dalam rekor MURI dengan kategori bentangan kain jarik bercorak batik terpanjang di Indonesia, bahkan di dunia.

"Kami mencatat ini sebagai bentangan kain jarik batik terpanjang di Indonesia, bahkan kami dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) telah sepakat ini merupakan bentangan terpanjang di dunia. Kami mencatat dalam rekor MURI di urutan ke 6153," ujar Manager MURI, Sri Widiyati.

Penyerahan piagam MURI dilakukan Sri Widiyati kepada Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, saat acara Solo Car Free Day, di Bundaran Gladag Solo.

Sementara itu panitia penyelenggara yang juga Kepala Sekolah SMA Batik 1 Solo, Literzet Sobri mengatakan selain memperingati Hari Batik Nasional, juga untuk memantapkan Solo sebagai ibukota Batik.

"Bentangan kain jarik ini dipegang oleh 6000 orang. Selain memperingati Hari Batik Nasional, kita berharap Kota Solo semakin mantap sebagai ibukota batik," pungkasnya.





@http://www.merdeka.com/

 

Yuk, memakai batik di Hari Batik Nasional




Sejak empat tahun yang lalu, sehari setelah peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober selalu diperingati Hari Batik Nasional. Ya, 2 Oktober 2013 yang jatuh hari ini adalah peringatan Hari Batik Nasional yang keempat.

Empat tahun lalu, tepatnya pada 2 Oktober 2009, batik diresmikan oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi milik Indonesia.

Selama empat tahun itu, Hari Batik Nasional selalu diperingati sebagian besar masyarakat Indonesia. Tanpa dikomando, kebanyakan pekerja di sejumlah daerah di Indonesia selalu mengenakan batik saat peringatan Hari Batik Nasional.

Dalam peringatan tahun lalu, para pedagang Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah menggelar acara fashion show. Fashion ini digelar tepat di depan pasar dan diikuti oleh ibu-ibu pedagang.

Mengenakan kain batik berbagai motif serta selendang batik tulis, ibu-ibu yang rata-rata berusia lebih dari 40 tahun itu berpose dan sesekali menari.

Ingin merayakan Hari Batik Nasional? Yuk, memakai batik hari ini.





 @http://www.merdeka.com/