The Knowledge For Our Common

Friday, May 01, 2015

BAGAIMANA SAYA MEMANDANG ANDA MARAH?



Jelas, saya memandangnya sebagai seorang pengamat yang marah. Saya berkata, “Saya marah.” Pada saat marah, tidak ada ‘aku’; sang ‘aku’ muncul sesaat kemudian—yang berarti waktu. Dapatkah saya memandang fakta itu tanpa faktor waktu, yang adalah pikiran, yang adalah kata? Ini terjadi bila orang memandang tanpa si pengamat. Lihat ke mana itu menuntun saya. Sekarang saya mulai melihat suatu cara memandang—melihat tanpa opini, tanpa kesimpulan, tanpa menyalahkan, tanpa menghakimi. Maka, saya melihat kemungkinan “melihat” tanpa pikiran, yang adalah kata. Maka batin berada di luar cengkeraman gagasan, konflik dualitas dan seterusnya. Jadi, dapatkah saya memandang rasa takut bukan sebagai fakta terisolasi?
Jika anda mengisolasikan suatu fakta yang belum membuka pintu kepada segenap alam batin, marilah kita kembali kepada fakta dan mulai lagi dengan mengambil fakta lain, sehingga Anda sendiri dapat mulai melihat keadaan batin yang luar biasa, sehingga Anda memiliki kunci, Anda dapat membuka pintu, anda dapat menembus ke dalamnya. ...
... Dengan merenungkan satu ketakutan—takut akan kematian, takut akan tetangga, takut bahwa teman hidup Anda akan mendominasi Anda; Anda tahu masalah dominasi itu—apakah itu akan membuka pintu? Itulah yang penting—bukan bagaimana untuk bebas dari itu—oleh karena begitu Anda membuka pintu, ketakutan itu terhapus sama sekali. Batin adalah hasil dari waktu, dan waktu adalah kata—betapa luar biasa memikirkan itu! Waktu adalah pikiran; pikiranlah yang menumbuhkan ketakutan, pikiranlah yang menumbuhkan ketakutan akan kematian; dan waktulah, yang adalah pikiran, yang menggenggam seluruh liku-liku dan kehalusan ketakutan.

Image Source : http://cdn.klimg.com/merdeka.com/
~ J. Krishnamurti

Friday, April 03, 2015

KETAKUTAN ADALAH TIDAK MENERIMA APA ADANYA



Ketakutan menggunakan berbagai cara pelarian. Cara yang paling umum adalah pengidentifikasian bukan?—pengidentifikasian dengan negara, dengan masyarakat, dengan suatu gagasan. Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana respons Anda ketika Anda melihat suatu arak-arakan: arak-arakan militer atau arak-arakan keagamaan, atau apabila negara terancam serangan dari luar?
Anda lalu mengidentifikasikan diri Anda dengan negara, dengan suatu makhluk, dengan suatu ideologi. Ada pula saat-saat ketika Anda mengidentifikasikan diri Anda dengan anak-anak Anda, dengan istri Anda, dengan suatu bentuk tindakan tertentu, atau penolakan bertindak tertentu. Pengidentifikasian adalah proses melupakan-diri. Selama saya sadar akan sang “aku”, saya tahu ada kesakitan, ada pergulatan, ada ketakutan terus-menerus. Tetapi jika saya dapat mengidentifikasikan diri saya dengan sesuatu yang lebih besar, dengan sesuatu yang bermanfaat, dengan keindahan, dengan kehidupan, dengan kebenaran, dengan kepercayaan, dengan pengetahuan, setidak-tidaknya untuk sementara, maka terdapat pelarian dari sang “aku”, bukan?
Jika saya bicara tentang “negaraku”, saya lupa akan diri saya untuk sementara waktu, bukan? Jika saya bisa bicara tentang Tuhan, saya lupa akan diri saya. Jika saya mengidentifikasikan diri saya dengan keluarga saya, dengan sebuah kelompok, dengan sebuah partai tertentu, dengan sebuah ideologi tertentu, maka terdapat pelarian sementara. Tahukah kita sekarang, apa ketakutan itu?
Bukankah itu berarti tidak menerima apa adanya?
Kita harus memahami kata ‘menerima’. Saya tidak menggunakan kata itu dalam arti suatu upaya untuk menerima. Tidak ada masalah menerima bila saya melihat apa adanya. Bila saya tidak melihat dengan jelas apa adanya, maka saya memasukkan proses menerima. Oleh karena itu, ketakutan adalah tidak menerima apa adanya.


~ J. Krishnamurti
Image Source : https://enigmaticdiablerie.files.wordpress.com/

Wednesday, April 01, 2015

KEKACAUAN YANG DICIPTAKAN OLEH WAKTU



Waktu berarti bergerak dari apa adanya menuju “apa seharusnya”. Saya sekarang takut, dan suatu hari kelak saya akan bebas dari ketakutan; oleh karena itu, diperlukan waktu untuk bebas dari ketakutan—setidak-tidaknya begitulah pikiran kita. Untuk berubah dari apa adanya menjadi “apa seharusnya” dibutuhkan waktu. Nah, waktu menyiratkan adanya upaya di dalam selang waktu antara apa adanya dan “apa seharusnya”. Saya tidak suka ketakutan, dan saya akan berupaya memahami, menganalisis, membedahnya, atau saya akan menemukan akar penyebabnya, atau saya akan melarikan diri sama sekali darinya. Semua ini menyiratkan upaya—dan upaya adalah apa yang kita kenal. Kita selalu berada dalam konflik antara apa adanya dengan “apa seharusnya”. “Apa seharusnya” adalah suatu gagasan, dan gagasan itu khayal, itu bukan ‘apa adanya diri saya’, yang adalah fakta. Dan “apa adanya diri saya” hanya dapat diubah apabila saya memahami kekacauan yang diciptakan oleh waktu.
.... Jadi, mungkinkah bagi saya untuk bebas dari ketakutan sama sekali, sepenuhnya, seketika? Jika saya biarkan ketakutan berlanjut, saya akan menciptakan kekacauan selamanya. Oleh karena itu, kita melihat bahwa waktu adalah suatu unsur di dalam kekacauan, bukan cara untuk pada akhirnya bebas dari ketakutan. Jadi, tidak ada proses berangsur-angsur untuk bebas dari ketakutan, persis seperti tidak ada proses berangsur-angsur untuk bebas dari racun nasionalisme. Jika Anda memiliki nasionalisme dan Anda berkata pada akhirnya akan ada persaudaraan sesama manusia, di dalam selang waktu itu akan ada perang, ada kebencian, ada kesengsaraan, ada perpecahan yang mengerikan di antara sesama manusia ini; oleh karena itu, waktu menciptakan kekacauan.

~ J. Krishnamurti
Image Source : http://www.kampung-media.com/

AKAR DARI KETAKUTAN



Keinginan untuk menjadi [sesuatu] menyebabkan ketakutan; menjadi,
mencapai, dan dengan demikian bergantung, menghasilkan ketakutan. Keadaan tak-takut bukanlah suatu negasi; itu bukan lawan dari keetakutan, bukan pula keberanian. Di dalam pemahaman akan sebab ketakutan, terdapat akhir dari ketakutan, bukan menjadi berani, oleh krena di dalam proses menjadi terdapat benih ketakutan.

Kebergantungan kepada benda-benda, kepada orang atau kepada gagasan menumbuhkan.ketakutan; kebergantungan muncul dari ketaktahuan, dari tidak adanya pengetahuan-diri, dari kemiskinan batiniah; ketakutan menyebabkan ketakpastian dari pikiran-hati, menghalangi komunikasi dan pemahaman. Melalui kesadaran-diri kita mulai menemukan dan dengan demikian memahami sebab dari ketakutan; bukan hanya yang dangkal, tetapi juga ketakutan yang kausal, dalam dan akumulatif.
Ketakutan kita warisi dan kita dapat; ia berkaitan dengan masa lampau, dan untuk membebaskan pikiran-perasaan darinya, masa lampau harus dipahami melalui masa kini. Masa lampau terus-menerus ingin melahirkan masa kini, yang menjadi ingatan “aku”, “milikku”, “diri”, yang memberi identitas. Diri inilah akar dari segala ketakutan.



Image Source : http://4.bp.blogspot.com/


~ J. Krishnamurti



Saturday, January 31, 2015

PENGETAHUAN DIRI

http://www.kliktoday.com/


Berpikir benar datang dengan pengenalan-diri. Tanpa memahami diri Anda, Anda tidak punya dasar untuk berpikir; tanpa pengenalan-diri, yang Anda pikir adalah tidak benar. Anda dan dunia bukan dua entitas berbeda dengan problem terpisah; Anda dan dunia adalah satu. Problem Anda adalah problem dunia. Anda mungkin hasil dari kecenderungan-kecenderungan tertentu, dari pengaruh lingkungan, tetapi Anda tidak berbeda secara mendasar dengan orang lain.
Secara batiniah, kita semua sangat mirip; kita semua didorong oleh keserakahan, keinginan jahat, ketakutan, ambisi dan sebagainya. Kepercayaan, harapan, aspirasi kita mempunyai landasan bersama. Kita adalah satu; kita adalah satu kemanusiaan, sekalipun batas-batas artifisial dari ekonomi dan politik dan prasangka memecah-belah kita. Jika Anda membunuh orang lain, Anda merusak diri sendiri. Anda adalah pusat dari keseluruhan, dan tanpa memahami diri Anda sendiri Anda tidak dapat memahami realitas.
Kita mempunyai pengetahuan intelektual tentang kesatuan ini, tetapi kita tetap menyimpan pengetahuan dan perasaan dalam kotak-kotak yang berbeda, dan oleh karena itu kita tidak pernah mengalami kesatuan yang luar biasa dari manusia.


 J. Krishanmurti

Thursday, January 22, 2015

DAPATKAH SAYA BERGANTUNG PADA PENGALAMAN SAYA ?


Kebanyakan dari kita puas dengan otoritas karena ia memberi kita kesinambungan, kepastian, suatu rasa terlindung. Tetapi orang yang ingin memahami implikasi dari revolusi psikologis yang mendalam ini haruslah bebas dari otoritas, bukan?
Ia tidak dapat mengharapkan otoritas apa pun, baik yang diciptakannya sendiri maupun yang dipaksakan oleh orang lain. Mungkinkah itu?
Mungkinkah bagi saya untuk tidak bergantung pada otoritas pengalaman saya sendiri?
Bahkan setelah saya membuang semua ungkapan lahiriah dari otoritas—buku, guru, rohaniwan, tempat ibadah, kepercayaan—saya masih merasa bahwa setidak-tidaknya saya dapat bergantung pada penilaian saya sendiri, pada pengalaman saya sendiri, pada analisis saya sendiri.
Tetapi dapatkah saya bergantung pada pengalaman saya, pada penilaian saya, pada analisis saya?
Pengalaman saya adalah hasil dari keterkondisian saya, persis seperti pengalaman Anda adalah hasil dari keterkondisian Anda, bukan?
Saya mungkin dibesarkan sebagai seorang Muslim, atau Buddhis, atau Hindu, dan pengalaman saya ditentukan oleh latar belakang budaya, ekonomis, sosial, dan religius, persis seperti pengalaman Anda juga. Dapatkah saya bergantung pada itu?
Dapatkah saya bergantung untuk mendapatkan tuntunan saya, harapan, penglihatan yang membuat saya yakin dalam penilaian saya sendiri, yang lagi-lagi adalah hasil dari akumulasi ingatan, pengalaman, keterkondisian masa lampau yang berjumpa dengan saat kini? ... Nah, bila saya ajukan semua pertanyaan ini kepada diri saya sendiri, dan saya sadar akan masalah ini, saya melihat bahwa hanya ada satu keadaan yang di situ realitas, kebaruan, dapat muncul, yang menghasilkan suatu revolusi. Keadaan itu adalah bila batin sama sekali kosong dari masa lampau, bila di situ tiada si penganalisis, tiada pengalaman, tiada penilaian, tiada otoritas dalam bentuk apa pun.


~ J. Krishnamurti

Wednesday, January 21, 2015

KEBAHAGIAAN/KENIKMATAN BERKAITAN DENGAN KEINGINAN


Saya telah mencicipi sebuah makanan dan saya menginginkan lebih banyak lagi; itu memberi saya sukacita: ada seks, ada kebahagiaan malam yang indah, kebahagiaan matahari terbenam, cahaya di permukaan air sementara sungai mengalir lewat, keindahan seekor burung melayang di udara, keindahan sebuah wajah, sebuah kalimat yang membangunkan sukacita mendalam, seulas senyum.
Lalu ada keinginan yang berkata, aku ingin mengalami lebih banyak lagi, dan keinginan -entah seksual, psikologis, atau lainnya- yang telah merasakan suatu kebahagiaan ingin mengulanginya.
Pengulangan itu muncul pada saat pikiran muncul. Kemarin malam, di antara awan-awan dan di bawah terpaan angin, tiba-tiba terdapat secercah cahaya matahari bersinar di sawah yang hijau. Cahaya itu luar biasa, penuh, kaya, dan warna hijau begitu hidup. Mata melihatnya; pikiran mencatatnya dan sangat berbahagia dalam keindahan itu, dalam cahaya itu, dalam warna hijau yang tiada taranya.
Saya ingin mengulangi kembali sukacita itu, maka hari ini saya mencari cahaya yang sama lagi, keindahan yang sama, perasaan yang sama - yang adalah pikiran.
Tindakan melihat adalah satu hal; lalu pikiran muncul dan berkata, "Saya ingin merasakannya lebih banyak lagi, saya harus mengulanginya lagi esok."
Pengulangannya adalah awal kebahagiaan. Ketika saya melihat cahaya di sawah itu, tidak ada keinginan, tidak ada kebahagiaan; yang ada hanyalah pengamatan dan sukacita yang besar. Lalu pikiran muncul dan berkata, "Ya Allah, betapa baiknya kalau saya dapat memperolehnya lagi esok."
Itulah yang kita lakukan sepanjang waktu - mungkin itu bersifat seksual, mungkin ketika seseorang menyanjung dan berkata ia teman Anda - pikiran masuk dan ingin mengulanginya. Awal kebahagiaan adalah awal pikiran di dalam konflik. Pikiranlah yang menuntut, yang menciptakan konflik.


[J Krishnamurti - Collected Works, Vol. XVI ,216]

Monday, January 19, 2015

BATIN YANG TUA TERIKAT OLEH OTORITAS


Masalahnya adalah: mungkinkah batin yang begitu terkondisi—terdidik dalam sekte, agama yang tak terhitung banyaknya, dan segala takhyul, ketakutan—melepaskan diri dari dirinya sendiri dan dengan demikian menghasilkan batin yang baru? ... Batin yang tua pada dasarnya adalah batin yang terikat oleh otoritas.
Saya tidak menggunakan istilah ‘otoritas’ dalam arti hukum; yang saya maksud dengan kata itu adalah otoritas sebagai tradisi, otoritas sebagai pengetahuan, otoritas sebagai pengalaman, otoritas sebagai cara untuk memperoleh rasa aman dan tinggal dalam rasa aman itu, secara lahiriah atau batiniah, oleh karena bagaimana pun juga, itulah yang selalu dicari oleh batin—suatu tempat yang di situ ia bisa merasa aman, tak terganggu.
Otoritas seperti itu mungkin otoritas sebuah gagasan yang diterapkan sendiri, atau apa yang disebut gagasan religius tentang Tuhan, yang tidak punya realitas bagi orang yang benar-benar religius. Gagasan bukan fakta, tapi fiksi. Tuhan adalah fiksi; Anda mungkin percaya itu, tapi itu tetap fiksi. Tetapi untuk menemukan Tuhan, Anda harus menghancurkan fiksi itu sepenuhnya, oleh karena batin yang tua adalah batin yang takut, yang ambisius, yang takut mati, takut hidup, dan takut berhubungan; dan batin seperti itu terus-menerus, sadar atau tidak sadar, mencari sesuatu yang abadi, mencari rasa aman.


~ J. Krishnamurti

Bebas Sejak Awal




Jika kita bisa memahami dorongan di balik keinginan kita untuk menguasai atau dikuasai, maka mungkin kita bisa bebas dari efek memasung dari otoritas. Kita ingin merasa pasti, merasa benar, memperoleh sukses, mengetahui; dan keinginan akan kepastian ini, akan keabadian, di dalam diri kita membangun otoritas pengalaman pribadi, sementara di luar membangun otoritas masyarakat, keluarga, agama, dan sebagainya.
Tetapi sekadar mengabaikan otoritas saja, membuang simbol-simbol lahiriahnya saja, sangat sedikit maknanya.
Melepaskan diri dari suatu tradisi dan memeluk tradisi lain, meninggalkan pemimpin ini dan mengikuti pemimpin itu, adalah suatu perilaku yang dangkal. Jika kita ingin menyadari seluruh proses otoritas, jika kita ingin melihat sifatnya yang tertuju ke dalam, jika kita ingin memahami dan mengatasi keinginan akan kepastian, maka kita harus memiliki kesadaran dan pencerahan yang luas; kita harus bebas, bukan pada akhir, melainkan sejak awal.


~ J. Krishnamurti

Sunday, January 11, 2015

APAKAH AGAMA ITU KEPERCAYAAN ?


Agama seperti yang kita ketahui atau akui secara umum, adalah kumpulan kepercayaan, dogma, ritual, takhyul, pemujaan patung, jimat dan guru yang akan menuntun Anda kepada apa yang Anda inginkan sebagai tujuan terakhir. Kebenaran terakhir adalah proyeksi pikiran Anda, ini adalah yang Anda inginkan, yang akan membuat Anda berbahagia, yang akan memberi jaminan akan kehidupan kekal. Demikianlah batin yang terperangkap dalam semua ini menciptakan agama, agama dogma, kependetaan, takhyul dan pemujaan berhala—dan di situ Anda terperangkap, dan batin Anda mandek. Apakah itu bisa disebut agama? Apakah agama itu soal kepercayaan, soal pengetahuan tentang pengalaman dan kata-kata orang lain? Atau apakah agama itu sekadar mengikuti suatu moralitas? Anda tahu, bersikap moralis itu relatif mudah—melakukan ini dan tidak melakukan itu. Karena mudah, Anda dapat meniru suatu sistem moral. Di balik moralitas itu mendekam sang diri, tumbuh, meluas, agresif, mendominasi. Tetapi apakah itu yang disebut agama?
Anda harus menemukan apa itu kebenaran, karena itulah satu-satunya yang penting, bukan apakah Anda kaya atau miskin, bukan apakah Anda berbahagia dengan keluarga dan anak-anak Anda, karena semua itu akan berakhir, selalu berakhir dengan kematian. Maka, tanpa suatu bentuk kepercayaan apa pun, Anda harus menemukan; Anda harus memiliki semangat, percaya-diri, inisiatif, sehingga bagi Anda sendiri Anda tahu apa itu kebenaran, apa itu Tuhan. Kepercayaan tidak akan memberi apa-apa kepada Anda; kepercayaan hanya akan merusak, membelenggu, membuat gelap. Batin hanya bisa bebas melalui semangat, melalui percaya-diri.


J Krishnamurti - The Book of Life, 

Saturday, January 10, 2015

Inilah yang Anda sebut Tuhan



Batin yang telah benar-benar menyelami semua ini, yang telah memasuki jiarah penyelidikan yang tak kenal kembali lagi, yang menyelidiki bukan hanya sekarang ini, jam-jam ini, melainkan dari-hari-ke-hari —batin yang demikian pasti menemukan status penciptaan yang juga adalah segenap eksistensi. Inilah yang Anda sebut Tuhan.

Agar penciptaan itu bisa berlangsung mesti ada kesendirian penuh —kesendirian di dalam mana tidak ada kemelekatan, tidak ada yang menemani; apakah itu kata-kata atau pemikiran-pemikiran ataupun kenangan-kenangan. Ini merupakan penyangkalan total terhadap semua yang telah ditemukan oleh pikiran demi rasa amannya.

Kesendirian penuh —didalam mana tak ada rasa takut— punya keindahan luarbiasanya sendiri. Ini merupakan keadaan kasih karena ini bukanlah kesendirian yang berasal dari reaksi; ini merupakan suatu negasi total yang bukan merupakan lawan dari yang positif.

Dan saya rasa, hanya dalam status penciptaan inilah batin benar-benar relijius. Batin yang demikian tak butuh meditasi: Dia sendirilah Yang Abadi Itu. Batin demikian tak lagi mencari —tidak juga mencari yang memberi kepuasan— tapi tak lagi mencari karena tak ada lagi yang perlu dicari. Ia total, tanpa-batas, tiada terukur, tiada ternamai.



__________________
Diterjemahkan dari cuplikan: Collected Works Vol. XI – 294; kiriman dailyquote@jkrishnamurti.org. Edisi sebelumnya bisa dibuka di:http://groups.yahoo.com/group/BeCeKa/message/19198.

BELAJAR BUKAN PENGALAMAN



Kata ‘belajar’ punya arti penting. Ada dua macam belajar. Bagi kebanyakan dari kita, ‘belajar’ berarti mengumpulkan pengetahuan, pengalaman, teknologi, ketrampilan, bahasa. Juga ada belajar secara psikologis, belajar melalui pengalaman, baik pengalaman hidup langsung, yang meninggalkan suatu sisa tertentu sebagai tradisi, ras, masyarakat. Demikianlah kedua jenis belajar untuk menghadapi kehidupan ini: secara psikologis dan secara fisiologis; ketrampilan lahir dan ketrampilan batin.
Sesungguhnya tidak ada garis pembatas di antara keduanya; keduanya tumpang tindih.
Sekarang kita tidak mempersoalkan ketrampilan yang kita peroleh dengan latihan, pengetahuan teknologis yang kita peroleh dengan studi. Yang kita bicarakan adalah belajar secara psikologis, yang selama berabad-abad kita peroleh atau warisi sebagai tradisi, pengetahuan, pengalaman. Ini kita sebut ‘belajar’, tapi saya mempertanyakan apakah itu benar-benar belajar. Saya tidak bicara tentang belajar suatu ketrampilan, bahasa, teknik, melainkan saya bertanya: apakah batin pernah belajar secara psikologis?
Ia belajar, dan dengan apa yang dipelajarinya ia menghadapi tantangan kehidupan. Ia selalu menerjemahkan kehidupan atau tantangan baru menurut apa yang telah dipelajarinya. Itulah yang kita lakukan. Apakah itu belajar?
Tidakkah ‘belajar’ menyiratkan sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak saya ketahui dan saya belajar?
Jika saya sekadar menambah apa yang sudah saya ketahui, itu bukan lagi belajar.



 J. Krishnamurti

ORANG RELIGIUS


Apakah keadaan batin yang berkata, ”Saya tidak tahu apakah ada Tuhan, apakah ada cinta,” yakni ketika tidak ada respons dari ingatan? Harap jangan menjawab pertanyaan ini dengan seketika kepada diri sendiri, oleh karena jika Anda lakukan itu, jawaban Anda hanyalah sekadar mengenali apa yang Anda pikir begini atau bukan begitu. Jika Anda berkata, ”Itu adalah keadaan negasi,” Anda membandingkannya dengan sesuatu yang telah Anda ketahui; oleh karena itu, keadaan yang di situ Anda berkata, ”Saya tidak tahu,” tidak ada. ...
Maka, batin yang mampu berkata, ”Saya tidak tahu,” ia berada dalam satu-satunya keadaan yang di situ dapat ditemukan apa pun. Tetapi orang yang berkata, ”Saya tahu,” orang yang telah mempelajari berbagai pengalaman manusia yang tak terhitung banyaknya, dan yang batinnya penuh dengan beban informasi, penuh dengan pengetahuan ensiklopedik, dapatkah ia mengalami sesuatu yang tidak tertimbun? Itu akan sangat sukar baginya.
Bila batin mengesampingkan secara total seluruh pengetahuan yang pernah dikumpulkannya, yang baginya tidak ada lagi Buddha-Buddha, Kristus-Kristus, para Master, para guru, agama-agama, kutipan-kutipan; bila batin berada sendiri sepenuhnya; tidak tercemar, yang berarti bahwa gerakan dari apa yang diketahui telah berhenti, hanya di situ ada kemungkinan suatu revolusi yang hebat, suatu perubahan fundamental. ...
Orang religius adalah orang yang tidak merasa dirinya termasuk suatu agama apa pun, bangsa apa pun, ras apa pun, yang di dalam dirinya berada sendirian sepenuhnya; berada dalam keadaan tidak tahu; dan bagi dia muncullah berkah dari yang suci.


J Krishnamurti - The Book of Life, 

Saturday, April 05, 2014

KITA ADALAH APA YANG KITA MILIKI



Untuk memahami hubungan, perlu ada kesadaran yang pasif, yang tidak menghancurkan hubungan. Sebaliknya, kesadaran itu membuat hubungan menjadi jauh lebih vital, jauh lebih bermakna.

Lalu di dalam hubungan itu ada kemungkinan bagi kasih sayang sejati: terdapat kehangatan, rasa dekat, yang bukan sekadar sentimen atau rasa-tubuh. Dan kalau kita dapat mendekati secara itu, atau berada dalam hubungan terhadap segala sesuatu, maka masalah-masalah kita dapat teratasi dengan mudah -- masalah harta benda, masalah milik.

Oleh karena kita adalah apa yang kita miliki. Orang yang memiliki uang adalah uang itu. Orang yang melihat dirinya dalam harta bendanya adalah harta benda itu, atau rumah, atau perabot. Begitu pula dengan gagasan, dengan tokoh; dan bila terdapat kepemilikan, tidak ada hubungan.

Tetapi kebanyakan dari kita memiliki oleh karena kita tidak punya yang lain jika kita tidak memiliki. Kita adalah kulit yang hampa bila kita tidak memiliki, bila kita tidak mengisi hidup kita dengan perabot, dengan musik, dengan pengetahuan, dengan ini-itu. Dan kulit itu membuat banyak gaduh, dan kegaduhan itu kita sebut hidup; dan kita merasa puas dengan semua itu.

Dan bila terdapat gangguan, bila semua itu meninggalkan kita, lalu terdapat kesedihan, oleh karena pada saat itu Anda tiba-tiba menyadari diri Anda seperti apa adanya -- sebuah kulit hampa, tidak punya banyak makna.

Jadi, menyadari seluruh isi hubungan adalah tindakan; dan dari tindakan itu ada kemungkinan bagi hubungan yang sejati, ada kemungkinan untuk menemukan kedalamannya yang besar, maknanya yang besar, dan mengetahui apa itu cinta.

 





J Krishnamurti
Buku Kehidupan: Hubungan

Wednesday, April 02, 2014

BERHUBUNGAN




Tanpa hubungan, tak ada eksistensi; eksis berarti berhubungan. ... Kebanyakan dari kita tampaknya tidak menyadari ini -- bahwa dunia adalah hubungan saya dengan orang lain, satu atau banyak.

Masalah saya adalah masalah hubungan. Apa adanya diri saya, itulah yang saya proyeksikan, dan jelas jika saya tidak memahami diri saya, seluruh hubungan akan kacau, dalam lingkaran yang makin melebar.

Jadi, hubungan menjadi luar biasa penting, bukan di kalangan khalayak ramai, orang banyak, melainkan di dalam dunia keluarga saya dan sahabat-sahabat saya, betapa pun terbatasnya; hubungan dengan istri saya, anak-anak saya, tetangga saya.

Di dalam dunia organisasi-organisasi raksasa, mobilisasi manusia besar-besaran, perpindahan massal, kita takut bertindak dalam skala kecil; kita takut menjadi orang kecil yang membersihkan sepetak tanah sendiri. Kita berkata kepada diri sendiri, “Apa yang bisa saya lakukan sendirian? Saya harus masuk ke dalam gerakan massal untuk dapat melakukan reformasi.”

Sebaliknya, revolusi sejati bukanlah melalui gerakan massal, melainkan melalui penilaian batiniah terhadap hubungan -- hanya itulah reformasi yang sejati, revolusi yang radikal, terus-menerus.

Kita takut mulai dengan skala kecil. Oleh karena masalahnya begitu besar, kita berpikir kita perlu menghadapinya dengan banyak orang, dengan organisasi raksasa, dengan gerakan massal. Jelas, kita harus mulai menggarap masalahnya dalam skala kecil, dan skala kecil itu adalah “saya” dan “Anda”.

Bila saya memahami diri saya sendiri, saya memahami Anda, dan dari pemahaman itu datanglah cinta. Cinta adalah mata rantai yang hilang; tidak ada kasih sayang, tidak ada kehangatan dalam hubungan; dan oleh karena kita tidak punya cinta itu, kelembutan itu, kemurahan itu, pengampunan di dalam hubungan, maka kita melarikan diri ke dalam tindakan massal, yang menghasilkan kekacauan lebih banyak, kesengsaraan lebih banyak. Kita mengisi hati kita dengan cetak-biru reformasi dunia, dan tidak memandang faktor penyelesai yang satu, yakni cinta.

 



J Krishnamurti
Buku Kehidupan: Hubungan

Tuesday, April 01, 2014

TIDAK ADA HIDUP SENDIRI




Kita ingin melarikan diri dari rasa kesepian kita, beserta ketakutannya yang mencekam, dengan demikian kita bergantung pada orang lain, kita memperkaya diri kita dengan teman-teman, dan seterusnya.

Kita adalah penggerak utama, dan orang-orang lain menjadi pion dalam permainan kita; dan ketika pion berbalik dan menuntut sesuatu sebagai imbalan, kita kaget dan bersedih hati.

Jika benteng kita sendiri kuat, tanpa suatu titik lemah pun, gempuran dari luar ini tidak banyak berdampak pada diri kita.

Kecenderungan yang khas pada usia yang menua harus dipahami dan diluruskan selagi kita masih mampu mengamati dan mengkaji diri kita sendiri secara terlepas dan toleran; berbagai ketakutan kita harus diamati dan dipahami sekarang.

Energi kita harus diarahkan, bukan saja kepada pemahaman tekanan dan tuntutan keluar yang menjadi tanggung jawab kita, tetapi juga pemahaman diri kita sendiri, pemahaman rasa kesepian kita, ketakutan kita, tuntutan kita dan kerapuhan kita.

Tidak ada hidup sendiri, karena semua kehidupan adalah hubungan; tetapi untuk mampu hidup tanpa hubungan langsung menuntut kecerdasan tinggi, suatu kesadaran yang lebih cepat dan lebih besar untuk dapat menemukan diri.

Suatu keberadaan “sendiri”, tanpa kesadaran yang tajam dan mengalir ini, akan memperkuat berbagai kecenderungan yang telah dominan, sehingga dengan demikian menyebabkan ketidakseimbangan, distorsi.

Sekaranglah kita harus sadar akan kebiasaan yang menetap dan khas dari pikiran-perasaan yang datang dengan usia tua, dan dengan menyadarinya akan menghapuskannya.

Hanya kekayaan batiniah yang membawa kedamaian dan sukacita.

 



J Krishnamurti
Buku Kehidupan: Hubungan

Monday, March 31, 2014

BEBAS DARI KETAKUTAN




Mungkinkah bagi batin untuk mengosongkan dirinya sama sekali dari ketakutan? Ketakutan macam apa pun menghasilkan ilusi; ketakutan membuat batin tumpul, dangkal.

Bila terdapat ketakutan, jelas tidak ada kebebasan, dan tanpa kebebasan tidak ada cinta sama sekali. Dan kebanyakan dari kita mempunyai salah satu bentuk ketakutan; takut akan kegelapan, takut akan opini masyarakat, takut akan ular, takut akan nyeri tubuh, takut akan hari tua, takut akan kematian. Kita punya lusinan ketakutan. Dan mungkinkah untuk bebas sama sekali dari ketakutan?

Kita bisa melihat apa yang dilakukan ketakutan terhadap masing-masing dari kita. Ketakutan membuat kita berbohong; ketakutan merusak kita dalam berbagai hal; ketakutan membuat batin tumpul, dangkal. Ada sudut-sudut gelap dalam batin yang tidak boleh diselidiki dan diungkapkan selama kita takut.

Melindungi-diri secara fisik, dorongan instinktif untuk menjauh dari ular berbisa, untuk mundur dari tepi jurang, untuk mencegah agar tidak terpeleset di depan trem listrik, dan sebagainya, adalah waras, normal, sehat.

Tetapi saya mempertanyakan tentang melindungi-diri secara psikologis, yang membuat orang takut akan penyakit, akan kematian, akan musuh. Bila kita mencari pemenuhan dalam bentuk apa pun, entah dengan melukis, melalui musik, melalui hubungan, atau apa pun keinginan Anda, selalu ada ketakutan.

Jadi, yang penting adalah sadar akan seluruh proses diri ini, mengamati, mempelajarinya, dan bukan bertanya bagaimana cara melenyapkan ketakutan. Bila Anda hanya sekadar ingin melenyapkan ketakutan, Anda akan menemukan cara-cara melarikan diri darinya, dan dengan demikian tidak pernah ada kebebasan dari ketakutan.

 



J Krishnamurti
Buku Kehidupan: Ketakutan

Sunday, March 30, 2014

PINTU MENUJU PEMAHAMAN / ڤينتو منوجو ڤماهمن




Anda tidak dapat melenyapkan ketakutan tanpa pemahaman, tanpa sungguh-sungguh melihat seluk-beluk waktu, yang berarti pikiran, yang berarti kata-kata.

Dari situ muncul pertanyaan: adakah pikiran tanpa kata-kata, adakah proses berpikir tanpa kata-kata yang adalah ingatan?

Tuan, tanpa melihat seluk-beluk batin, gerakan batin, proses mengenal-diri, maka sekadar berkata saya harus bebas darinya tidak punya banyak arti. Anda harus menggarap ketakutan dalam konteks seluruh batin.

Untuk melihatnya, untuk menyelami semua ini, Anda perlu energi. Energi tidak datang dari makan — itu bagian dari kebutuhan fisik. Tetapi melihat, dalam arti kata yang saya gunakan, membutuhkan energi yang amat besar; dan energi itu dihamburkan bila Anda bergulat dengan kata-kata, bila anda melawan, mengutuk, bila Anda penuh opini yang mencegah Anda dari memandang, melihat — energi Anda habis di situ.

Maka di dalam mempertimbangkan persepsi ini, penglihatan ini, Anda membuka pintu lagi.

 



J Krishnamurti
Buku Kehidupan: Ketakutan

Saturday, March 29, 2014

FUNGSI HUBUNGAN



Hubungan mau tidak mau menyakitkan, yang terlihat di dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika di dalam hubungan tidak terdapat ketegangan, maka itu bukan lagi hubungan, melainkan sekadar tidur yang nyaman, terbius -- yang diinginkan dan lebih disukai oleh kebanyakan orang.

Konflik terjadi antara keinginan akan kenyamanan ini dengan apa yang faktual, antara ilusi dan aktualitas. Jika Anda memahami ilusi itu, Anda dapat, dengan mengesampingkannya, mengarahkan perhatian Anda untuk memahami hubungan. Tetapi jika Anda mencari rasa aman dalam hubungan, itu menjadi investasi dalam kenyamanan, dalam ilusi -- padahal kebesaran hubungan justru terletak pada rasa tak-amannya. Dengan mencari rasa-aman dalam hubungan, Anda menghalangi fungsinya, yang menghasilkan tindakan dan kemalangannya sendiri.

Sesungguhnya, fungsi hubungan adalah untuk mengungkap seluruh keadaan diri kita sendiri. Hubungan adalah proses pengungkapan-diri, pengenalan-diri. Pengungkapan-diri ini menyakitkan, menuntut penyesuaian, kelenturan pikiran-emosi terus-menerus. Itu adalah pergulatan yang menyakitkan, dengan masa-masa kedamaian dengan pencerahan. ....

Tetapi kebanyakan kita menghindari atau mengabaikan ketegangan di dalam hubungan, dan lebih menyukai kemudahan dan kenyamanan dalam kebergantungan yang memuaskan, rasa aman yang tak punya tantangan, tempat berlabuh yang aman. Maka keluarga dan hubungan lain menjadi tempat pelarian, pelarian bagi mereka yang tidak mau berpikir.

Bila rasa tak-aman menyelinap menjadi kebergantungan, seperti selalu demikian yang terjadi, maka di situ hubungan dibuang dan hubungan baru diambil dengan harapan untuk menemukan rasa aman yang lestari; tetapi tidak ada rasa aman dalam hubungan, dan kebergantungan hanya menghasilkan ketakutan.

Tanpa memahami proses rasa aman dan ketakutan, hubungan menjadi penghalang yang membelenggu, jalan kegelapan. Maka seluruh eksistensi ini menjadi pergulatan dan kesakitan, dan tidak ada jalan keluar dari situ kecuali dengan berpikir benar, yang datang dengan pengenalan-diri.

 






J Krishnamurti
Buku Kehidupan: Hubungan

BAGAIMANA MUNGKIN BISA ADA CINTA SEJATI?



Citra yang Anda peroleh tentang seseorang, citra yang Anda miliki tentang para politisi, perdana menteri, tuhan Anda, istri Anda, anak-anak Anda -- citra ini yang kita pandang.

Dan citra itu tercipta melalui hubungan Anda, atau melalui ketakutan Anda, atau melalui harapan Anda. Kenikmatan seksual dan lainnya yang Anda peroleh bersama istri Anda, suami Anda, amarah, sanjungan, kenyamanan, dan segala sesuatu yang dibawa oleh kehidupan keluarga --sesungguhnya itu kehidupan yang sangat berbahaya-- telah menciptakan citra tentang istri atau suami Anda. Dengan citra itu Anda memandang.

Begitu pula, istri atau suami Anda mempunyai citra tentang Anda. Jadi, hubungan antara Anda dengan istri atau suami Anda, antara Anda dengan para politisi, sesungguhnya adalah hubungan antara dua citra. Begitu, bukan? Itu adalah fakta.

Bagaimana dua citra yang adalah hasil pikiran, hasil kenikmatan dan sebagainya, bisa mengandung kasih sayang dan cinta?

Jadi, hubungan antara dua individu, yang amat erat berdekatan atau amat jauh terpisah, adalah hubungan antara citra-citra, simbol-simbol, ingatan-ingatan. Dan di situ, bagaimana mungkin bisa ada cinta sejati?


 







J Krishnamurti
Buku Kehidupan: Hubungan